OPEC+ Tingkatkan Produksi Minyak, Hadapi Gangguan Pasokan Minyak
- 07 Apr 2026 15:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei, meski sebagian besar bersifat simbolis karena beberapa anggota kunci tidak mampu meningkatkan produksi akibat perang AS-Israel melawan Iran.
- Perang tersebut memblokir Selat Hormuz sejak akhir Februari, sehingga mengurangi ekspor dari Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak, dengan gangguan pasokan mencapai 12–15 juta barel per hari atau hingga 15 persen dari pasokan global.
- Harga minyak mentah melonjak mendekati $120 per barel, memicu kenaikan harga bahan bakar transportasi, dan JPMorgan memperingatkan harga bisa melampaui $150 per barel jika aliran minyak melalui selat tetap terganggu hingga pertengahan Mei.
RRI.CO.ID, Wina — OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan Mei. Kenaikan ini dianggap sebagian besar bersifat simbolis, dilansir dari Al Jazeera dan The Hill, Selasa, 7 Maret 2026.
Hal tersebut terjadi karena beberapa anggota kunci tidak dapat meningkatkan produksi akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Perang tersebut telah memblokir Selat Hormuz sejak akhir Februari.
Jalur tersebut merupakan jalur minyak terpenting di dunia, sehingga mengurangi ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Delapan anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, menyetujui kenaikan kuota ini.
Melalui pertemuan cirtual, mereka menegaskan akan terus memantau kondisi pasar untuk mendukung stabilitas energi. Delapan negara juga menyatakan keprihatinan atas serangan terhadap infrastruktur energi.
Mereka menekankan bahwa memulihkan aset yang rusak membutuhkan biaya tinggi dan waktu lama, sehingga memengaruhi ketersediaan pasokan minyak. Meskipun kenaikan kuota hanya mewakili kurang dari dua persen dari pasokan yang terganggu, hal ini tetap signifikan.
Sumber OPEC+ mengatakan kenaikan tersebut menunjukkan kesiapan untuk meningkatkan produksi begitu Selat Hormuz dibuka kembali. Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi empat tahun, mendekati $120 per barel (Rp2 juta).
Lonjakan harga tersebut menyebabkan kenaikan harga bahan bakar transportasi. JPMorgan memperingatkan harga minyak bisa melampaui $150 (Rp2,5 juta) per barel jika aliran minyak melalui selat terganggu hingga pertengahan Mei.
Kenaikan kuota untuk Mei sama dengan kesepakatan sebelumnya pada April. Gangguan pasokan minyak diperkirakan telah mencapai 12–15 juta barel per hari, atau hingga 15 persen dari pasokan global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....