Iran Tawarkan Pembukaan Kembali Selat Hormuz jika AS Cabut Blokade

  • 28 Apr 2026 15:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz jika Amerika Serikat mencabut blokade dan mengakhiri perang, dengan penundaan pembahasan program nuklir.
  • Donald Trump dan Marco Rubio menolak kesepakatan tanpa jaminan penghentian program nuklir Iran, di tengah ketegangan yang masih berlangsung.
  • Kebuntuan ini memicu kenaikan harga energi dunia, mendorong seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta diiringi upaya diplomasi Iran dengan Rusia untuk meredakan ketegangan.

RRI.CO.ID, Teheran — Iran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz jika Amerika Serikat mencabut blokade dan mengakhiri perang. Usulan tersebut disampaikan melalui mediator Pakistan, dilansir dari AP News, Selasa, 28 April 2026.

Usulan tersebut mencakup penundaan pembahasan program nuklir Iran ke tahap berikutnya. Presiden AS Donald Trump disebut kecil kemungkinan menerima proposal tersebut karena masih menyisakan perbedaan mendasar, terutama terkait isu nuklir.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, setiap kesepakatan harus mencakup jaminan agar Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Di tengah gencatan senjata yang rapuh, AS dan Iran masih terlibat kebuntuan mengenai Selat Hormuz.

Jalur tersebut merupakan rute vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Blokade AS bertujuan menekan ekspor minyak Iran, namun kebijakan tersebut juga berdampak pada kenaikan harga energi global.

Penutupan selat ini memicu lonjakan harga minyak dan menekan negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk yang bergantung pada jalur tersebut. Kondisi ini mendorong banyak negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyerukan pembukaan kembali jalur perdagangan strategis tersebut.

Sementara itu, Iran tetap menunda pembahasan isu nuklir dan menegaskan bahwa prioritas utama adalah pencabutan blokade. Dalam perkembangan diplomatik lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas situasi regional.

Dalam pertemuan tersebut, Rusia menyatakan dukungan terhadap upaya perdamaian. Di sisi lain, Trump menyebut Iran mengajukan proposal yang “lebih baik”, tetapi AS bersikeras Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....