Selat Hormuz Lumpuh, 20.000 Pelaut Terjebak di tengah Konflik

  • 28 Apr 2026 15:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebuntuan di Selat Hormuz menyebabkan sekitar 20.000 pelaut terjebak di ratusan kapal akibat terganggunya jalur perdagangan global.
  • Eskalasi konflik Iran menurunkan jumlah pelayaran drastis serta menyebabkan serangan terhadap kapal, dengan sedikitnya 10 pelaut dilaporkan tewas menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
  • Meski Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, blokade tetap berlaku dan memicu serangan balasan. IMO menyatakan tidak ada jalur aman di selat tersebut.

RRI.CO.ID, Teheran - Kebuntuan di Selat Hormuz telah memicu krisis maritim besar. Hal tersebut membuat sekitar 20.000 pelaut terjebak di ratusan kapal kargo, tanker minyak, dan kapal gas.

Melansir dari Euro News, Selasa, 28 April 2026, kondisi ini terjadi akibat meningkatnya konflik Iran yang mengganggu jalur perdagangan global. Gangguan tersebut berdampak besar pada distribusi minyak dan gas dunia yang selama ini sangat bergantung pada selat tersebut.

Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, namun kini jumlah pelayaran turun drastis. Data menunjukkan hanya sekitar 80 kapal yang melintas dalam satu pekan.

Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan lebih dari 130 kapal per hari sebelum konflik. Sejak eskalasi perang, puluhan kapal dilaporkan menjadi target serangan dan sedikitnya 10 pelaut tewas menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Meski Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, blokade terhadap Iran tetap diberlakukan oleh Amerika Serikat. Kondisi ini memicu respons balasan berupa serangan dan penyitaan kapal oleh Iran di kawasan perairan tersebut.

Para pelaut kini menghadapi situasi berbahaya dan terjebak di laut selama berminggu-minggu tanpa kepastian. Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menyerukan pembentukan jalur aman bagi kapal komersial, namun kondisi di lapangan masih belum membaik.

Iran menyatakan selat tetap terbuka bagi kapal yang dianggap tidak bermusuhan. Namun, ancaman ranjau laut dan serangan membuat risiko pelayaran tetap tinggi.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menegaskan bahwa saat ini tidak ada jalur transit yang benar-benar aman di Selat Hormuz. Krisis ini menjadi salah satu gangguan terbesar dalam pelayaran global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....