Pengamat Nilai Penembakan Trump Cerminkan Meningkatnya Kekerasan Politik di AS
- 27 Apr 2026 15:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Insiden penembakan Trump mencerminkan meningkatnya kekerasan politik akibat polarisasi tajam di AS.
- Normalisasi kekerasan oleh elit politik dinilai berbahaya dan dapat melemahkan demokrasi serta memicu konflik lebih luas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Insiden penembakan yang menyasar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai memperkuat tren kekerasan politik. Kondisi ini disebut sebagai dampak dari polarisasi yang semakin tajam di Amerika Serikat.
Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas, menilai kekerasan politik di AS terus meningkat. Fenomena ini terjadi seiring membesarnya perpecahan di antara kelompok politik.
“Kekerasan politik di AS, lambat laun makin meningkat. Ini juga sebenarnya tidak lepas dari polarisasi yang semakin kuat membelah di perpolitikan nasional mereka (AS),” ujar Anton dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin, 27 April 2026.
Ia menjelaskan, baik kubu pendukung maupun penentang Trump mulai menunjukkan toleransi terhadap kekerasan. Meski angkanya masih di bawah 10 persen, tren tersebut dinilai stabil dan mengkhawatirkan.
Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh sikap elit politik yang cenderung menormalisasi kekerasan. Alih-alih mengecam, sebagian pihak justru memanfaatkan insiden untuk kepentingan politik.
“Karena memang kemudian politisi dari kedua pihak sama-sama menormalisasi, bukan malah kemudian mengecam insiden itu. Tapi kemudian ada pihak-pihak yang seakan-akan menjadi, tidak hanya memolitisasi, tapi kemudian menormalisasi, menjadi hal biasa saja,” katanya
Ia menilai normalisasi ini berpotensi membuat kekerasan politik semakin sering terjadi. Bahkan, tren tersebut bisa terus berulang jika tidak ada upaya tegas untuk menghentikannya.
“Dampaknya tentu saja, tentu ini akan menjadi bahaya, karena yang kemudian menjadi target sebenarnya itu adalah elitnya. Kedua adalah tentu saja ini sebenarnya bukan cara-cara yang diakui oleh demokrasi,” ujarnya
Selain itu, ia mengingatkan potensi dampak yang lebih luas terhadap masyarakat. Polarisasi yang tajam dapat memicu pembelahan yang semakin dalam dan memperbesar konflik sosial.
Menurutnya, kondisi ini juga bisa menular ke negara lain yang memiliki tingkat polarisasi tinggi. Oleh karena itu, kekerasan politik harus ditolak secara tegas oleh semua pihak.
Anton menekankan pentingnya peran elit politik dalam meredam situasi. Ia menyarankan agar politisi tidak memanfaatkan insiden kekerasan untuk meningkatkan popularitas.
“Semestinya kalau kita bicara tentang demokrasi, maka para politisi terutama tidak boleh memolitisasi. Kedua, harus mengecam secara keras dan mendukung adanya penyelesaian dengan penegakan hukum yang baik,” ucap Anton.
Tanpa upaya tersebut, kekerasan politik dikhawatirkan akan terus berulang. Hal ini berpotensi memperburuk stabilitas politik dan keamanan di Amerika Serikat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....