Pengamat: Penembakan Donald Trump Picu Ketidakstabilan Politik Amerika Serikat
- 27 Apr 2026 14:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Penembakan terhadap Donald Trump dinilai memicu ketidakstabilan politik dan memperdalam polarisasi di Amerika Serikat.
- Insiden ini berpotensi memengaruhi elektabilitas Trump, baik sebagai keuntungan politik maupun sebaliknya.
RRI.CO.ID, Jakarta - Insiden penembakan yang kembali menyasar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai berdampak serius. Peristiwa ini berpotensi memicu ketidakstabilan politik dan keamanan nasional di Amerika Serikat.
Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran Bandung, Prof Muradi, menilai ada tiga faktor utama. Salah satunya adalah penggunaan isu sensitif dalam politik yang diangkat oleh Trump.
“Jadi, isu yang diangkat oleh Trump itu kan isu yang sangat sensitif. Isu kata-kata rasanya nyebut American First, white supremacy, dan juga hal-hal lain yang berkaitan secara diskriminatif terhadap dengan ras lain,” katanya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin 27 April 2026.
Ia juga menyoroti dampak terhadap politik luar negeri Amerika Serikat. Ketidakstabilan domestik dinilai dapat mengganggu konsistensi kebijakan luar negeri yang dijalankan.
“Kedua, soal stabilitas politik luar negeri Amerika Serikat, ketika politik dalam negeri nggak bisa fokus, maka mengganggu politik luar negeri. Berkaitan soal perang di Iran dan inkonsistensi Trump,” ucapnya.
| Baca juga: Ini Latar Belakang Pelaku Penembakan Trump |
Selain itu, insiden penembakan ini dinilai berpengaruh terhadap peta politik menjelang pemilu. Peristiwa tersebut bisa menjadi keuntungan sekaligus kerugian bagi Trump.
“Ketiga, kita akan bicara soal pemilu pada Oktober nanti. Isu yang seperti ini muncul, ada dua resiko yang akan muncul, yaitu positif dan negatif untuk Trump,” ujarnya.
Muradi menjelaskan di satu sisi, Trump berpotensi mendapat simpati publik sebagai korban. Namun di sisi lain, hal ini dapat memperkuat kritik terhadap kebijakan politiknya.
Ia juga menilai tingginya ancaman terhadap Trump tidak terlepas dari kebijakan yang diambil. Kebijakan yang dinilai diskriminatif membuatnya rentan menjadi target.
“Kondisi politik dalam negeri Amerika saat ini terbelah menjadi tiga kelompok. Kelompok tersebut terdiri dari penolak, netral, dan pendukung kebijakan Trump,” katanya.
Menurutnya, situasi ini memperlihatkan ketegangan yang terus meningkat di masyarakat. Jika tidak dikelola, kondisi ini berpotensi memperdalam polarisasi sosial.
“Hentikan kebijakan-kebijakan yang sifatnya tidak berpihak (kepada rakyat). Kebijakan yang kemudian harus tetap menjadi kebijakan mengalami semua pihak,” ucapnya.
Ia mengatakan, Trump harus meredakan tensi dengan kebijakan yang lebih inklusif. Ia juga menekankan pentingnya menstabilkan hubungan luar negeri.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meredam konflik internal dan eksternal. Tanpa perubahan kebijakan, risiko ketegangan diprediksi akan terus meningkat.
Secara global, insiden ini turut memengaruhi persepsi terhadap Amerika Serikat. Dunia menilai adanya ketidaksinkronan antara kebijakan luar negeri dan kondisi domestik negara adidaya tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....