Pemerhati: Ongkos Perang Terlalu Mahal, AS Gali Kuburan Sendiri
- 15 Apr 2026 07:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Konflik berkepanjangan di Timur Tengah memaksa Amerika Serikat (AS) mengambil langkah strategis yang mengubah peta kekuatan militer global.
- Ironisnya, serangan dan embargo yang dilancarkan AS justru menjadi bumerang.
- Tujuan menguasai energi dan menekan kompetitor dagang malah berbalik arah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Konflik berkepanjangan di Timur Tengah memaksa Amerika Serikat (AS) mengambil langkah strategis yang mengubah peta kekuatan militer global. Banyak fasilitas dan aset pertahanan yang semula ditempatkan di kawasan Asia Pasifik, khususnya di Filipina, kini dipindahkan untuk mendukung operasi di kawasan Teluk Persia.
Langkah ini diambil setelah perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran terasa sangat menguras sumber daya. Meskipun telah dicapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan sejak 8 April 2026, dampak kerusakan dan beban biaya perang yang terjadi sejak 28 Februari 2026 dirasa sangat luar biasa berat bagi Washington.
Analis geopolitik internasional, Sukron Makmun, mengatakan keputusan AS memilih jalur eskalasi ketimbang diplomasi ibarat "menggali kuburan sendiri". Dominasi AS di dunia internasional kini mulai tergeser, sementara ekonominya yang sudah terdesak oleh kompetitor Asia, makin merosot lantaran harus menanggung biaya perang yang fantastis.
"Iran memang rugi, tetapi AS jauh lebih menderita," ujarnya, Selasa 14 April 2026 di Jakarta. Bukan hanya soal tentara yang tewas, tapi reputasi dan citra mereka hancur.
"Pangkalan-pangkalan tua simbol hegemoni yang dibangun puluhan tahun ternyata bisa dihancurkan Iran dalam sekejap," kata Sukron, intelektual muda NU dan Wakil Sekjen Perhimpunan Alumni Tiongkok (PERHATI).
Menurut dia, strategi Teheran memang tidak dirancang untuk menang secara militer langsung. Melainkan membuat biaya perang bagi musuh menjadi sangat tidak masuk akal.
"Iran sadar lawannya lebih kuat makanya mereka main waktu dan durasi, tujuannya agar ekonomi global terganggu dan kantong lawan bolong," ujarnya. "Tidak perlu menang telak, cukup pastikan musuh tidak bisa menang, jka perang panjang, tekanan domestik di AS dan Israel yang akan menjatuhkan mereka sendiri."
Ironisnya, serangan dan embargo yang dilancarkan AS justru menjadi bumerang. Tujuan menguasai energi dan menekan kompetitor dagang malah berbalik arah.
"Embargo justru membuat Iran menjadi pemasok energi murah bagi negara-negara lain, seharusnya nggak kompetitor AS bisa produksi lebih murah dan menang saing. Dunia sekarang multipolar, sanksi tidak mematikan, malah memunculkan sistem transaksi alternatif yang meninggalkan Dolar," ucap pria yang pernah belajar dan tinggal di Iran ini.
Kondisi ini memaksa AS membagi konsentrasi. Saat sumber daya di Timur Tengah terkuras habis oleh serangan balasan Iran, langkah terpaksa diambil: memindahkan aset dari Asia.
Saat ini, AS memiliki setidaknya 13 pangkalan militer di Filipina di bawah skema EDCA, tersebar di Palawan, Luzon, Cagayan hingga Mindanao yang sangat strategis menghadap Laut China Selatan dan Taiwan. Namun kini, fokus ini mulai redup.
"AS dipaksa memilih: selamatkan muka di Timur Tengah atau pertahankan pengaruh di Asia? mereka pilih yang pertama demi gengsi. Akibatnya, pengawasan di Asia berkurang drastis, sehingga menjadi keuntungan besar bagi kompetitor mereka (Tiongkok) untuk bergerak bebas," kata Sukron.
Langkah ini juga dikritik keras oleh masyarakat dan akademisi Filipina, seperti Prof Roland G Simbulan. Dirinya khawatir negaranya diseret menjadi medan perang dan target serangan.
Sukron menegaskan, menyerang Iran memang mudah, tapi menanggung akibatnya sangat mahal. Kini dengan mengalihkan fokus ke Timteng, superioritas AS di Asia Pasifik makin dipertanyakan.
"AS sibuk berperang dan menguras harta, sementara pihak lain justru menuai keuntungan (windfall profit). Industri makin kuat, cadangan energi aman, dan sistem keuangan makin bergeser. Perang memang musibah, tapi bagi yang cerdas membaca peluang, ini adalah berkah," ujarnya menandaskan. (rel)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....