Harga BBM Naik Lagi akibat Ketidakpastian Gencatan Senjata AS-Iran
- 10 Apr 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Harga bensin dan solar naik kembali karena ketidakpastian gencatan senjata antara AS dan Iran, sementara harga minyak masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik.
- Kekhawatiran meningkat terkait keamanan pelayaran di Strait of Hormuz, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menjaga harga bahan bakar tetap tinggi.
- Lalu lintas kapal yang masih terbatas serta volatilitas pasar global membuat pemulihan rantai pasokan dan perdagangan dunia diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
RRI.CO.ID, Washington — Harga bensin dan solar kembali naik seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Para pengendara menunggu apakah kesepakatan tersebut dapat menurunkan harga bahan bakar.
Melansir dari BBC News dan The Guardian, Jumat, 10 April 2026, harga minyak sempat turun, namun kembali naik akibat ketidakpastian situasi. Harga minyak saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
Pengemudi diperingatkan agar tidak mengharapkan penurunan signifikan dalam waktu dekat. Sementara itu, kelompok otomotif menyebut harga dapat mulai turun jika gencatan senjata bertahan.
Keraguan meningkat setelah Israel meluncurkan serangan ke Lebanon, yang memicu peringatan keras dari Teheran. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan pasukan Amerika akan tetap berada di kawasan hingga Iran mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Salah satu syarat utama perjanjian tersebut adalah keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dan gas global. Namun laporan mengenai kemungkinan penutupan kembali selat tersebut memicu kekhawatiran gangguan energi berkepanjangan.
Harga minyak Brent sempat mencapai 99 dolar AS (Rp1,6 juta) per barel. Angka tersebut kemudian turun sedikit setelah rencana pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon.
Sejak konflik dimulai, harga minyak grosir telah naik sekitar 35 persen, dan kenaikan ini berdampak langsung pada harga bahan bakar. Bensin rata-rata mencapai 158,03 pence (Rp36.000 – Rp36.500) per liter dan solar 191,11 pence (Rp43.695) per liter.
Biaya tangki penuh bensin dan solar kini jauh lebih mahal dibandingkan awal konflik. Kelompok otomotif RAC memperkirakan harga tidak akan turun cepat.
Sementara itu, kelompok otomotif lain, AA menyebut harga dapat mulai stabil dalam 10 hingga 14 hari jika situasi membaik. Volatilitas juga terlihat di pasar saham global.
Indeks saham Jepang dan sebagian besar bursa Eropa melemah, sementara indeks utama di Amerika Serikat ditutup menguat. Pasar global menunjukkan kegugupan akibat ketidakpastian keamanan jalur energi.
Iran juga memperingatkan bahwa kapal yang melintas tanpa izin dapat ditargetkan. Sejak pengumuman gencatan senjata, hanya sedikit kapal yang melewati Selat Hormuz.
Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata sebelum perang. Kondisi ini membuat pemulihan rantai pasokan dan perdagangan global diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....