Rusia dan Tiongkok Veto Resolusi PBB tentang Selat Hormuz

  • 08 Apr 2026 15:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan resolusi pembukaan Selat Hormuz setelah diveto oleh Rusia dan Tiongkok.
  • Ancaman serangan dari Donald Trump ditangguhkan dua minggu, diikuti gencatan senjata sementara dan izin pelayaran di bawah pengelolaan militer Iran.
  • Rusia dan Tiongkok menilai resolusi berpotensi disalahgunakan, sementara Bahrain mengecam kegagalan tindakan internasional dan Iran menyambut veto tersebut sebagai dukungan atas hak membela diri.

RRI.CO.ID, New York — Rusia dan Tiongkok memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Resolusi tersebut sebelumnya beberapa kali dilunakkan untuk menghindari penggunaan hak veto kedua negara, dilansir dari AP News, Rabu, 8 April 2026.

Pemungutan suara berakhir dengan hasil 11 negara mendukung dan dua menolak, sementara Pakistan dan Kolombia memilih abstain. Voting berlangsung tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam tindakan keras jika Iran tidak membuka Selat Hormuz.

Namun, Trump kemudian menunda ancaman tersebut dan menawarkan penangguhan serangan selama dua minggu. Penangguhan tersebut bergantung pada kesediaan Iran menyepakati gencatan senjata dan membuka kembali selat.

Jalur tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan selama konflik mendorong lonjakan harga energi global. Iran kemudian menerima gencatan senjata dua minggu dan mengizinkan pelayaran di bawah pengelolaan militernya.

Rusia menilai resolusi tersebut berpotensi memberi Amerika Serikat dan Israel keleluasaan untuk melanjutkan agresi. Tiongkok juga menyatakan dokumen tersebut rentan disalahgunakan serta tidak mencerminkan akar konflik yang sebenarnya.

Kedua negara kemudian mengajukan resolusi tandingan yang mendesak penghentian aktivitas militer dan mengutuk serangan terhadap warga sipil. Bahrain sebagai pengusul resolusi awal mengkritik kegagalan Dewan Keamanan mengambil tindakan.

Negara tersebut menilai komunitas internasional disandera oleh tekanan ekonomi Iran dan berjanji meningkatkan upaya diplomatik bersama negara-negara Teluk. Sementara itu, Iran menyambut veto Rusia dan Tiongkok serta menegaskan langkahnya di selat merupakan hak membela diri.

Resolusi yang diveto sebelumnya telah direvisi berkali-kali. Perubahannya dari mengizinkan penggunaan “semua cara yang diperlukan” menjadi hanya mendorong koordinasi pengamanan pelayaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....