Ratusan Kapal Macet di Selat Hormuz, Negara Ini Paling Terdampak

  • 04 Apr 2026 13:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Krisis Selat Hormuz paling berdampak pada perusahaan pelayaran dari Yunani, Uni Emirat Arab, dan Tiongkok, dengan sekitar 670 kapal komoditas terdeteksi dan UEA menyumbang sekitar 18 persen.
  • Sejumlah negara Asia turut terdampak, termasuk Jepang, India, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam, dengan puluhan kapal minyak, gas, dan kargo tertahan.
  • Sekitar 50 kapal tanker minyak raksasa dan 11 kapal gas besar terjebak, sementara sebagian kapal tetap melintas melalui jalur aman dari Iran, dan banyak lainnya menunggu konflik mereda karena risiko tinggi dan biaya asuransi mahal.

RRI.CO.ID, Teheran — Perusahaan pelayaran dari Yunani, Uni Emirat Arab, dan Tiongkok menjadi yang paling terdampak oleh krisis di Selat Hormuz. Sekitar 670 kapal komoditas mengirimkan sinyal dari wilayah barat selat dalam satu hari terakhir.

Melansir dari The Straits Times, Sabtu, 4 April 2026, perusahaan dari Uni Emirat Arab menyumbang sekitar 120 kapal atau 18 persen dari total. Angka ini kemungkinan lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena sebagian kapal mematikan transponder mereka.

Perusahaan Yunani memiliki sedikitnya 75 kapal komoditas di selat sejak awal konflik, termasuk sekitar 30 tanker minyak dan gas. Sementara itu, perusahaan Tiongkok memiliki 74 kapal di wilayah tersebut.

Sebanyak 25 di antaranya merupakan tanker minyak dan gas, sedangkan sisanya kapal kargo curah kering. Perusahaan Jepang memiliki 23 kapal minyak dan gas serta 16 kapal kargo kering, sementara 25 kapal Hong Kong juga terdampak.

Perusahaan berbasis di India memiliki 24 kapal minyak dan gas. Sementara itu, perusahaan dari Singapura dan Korea Selatan masing-masing memiliki 29 dan 22 kapal yang terdampak.

Selain itu, Vietnam memiliki tiga kapal gas besar di area tersebut. Secara keseluruhan, sekitar 50 kapal tanker minyak mentah sangat besar dan 11 kapal pengangkut gas besar dilaporkan tertahan.

Korea Selatan memiliki tujuh kapal minyak raksasa (VLCC), sementara perusahaan Tiongkok dan Jepang masing-masing enam, serta Yunani lima. Lebih dari 40 penyeberangan dilakukan oleh kapal terkait Iran sejak konflik dimulai.

Selain itu, sekitar 60 kapal lainnya terkena sanksi Amerika Serikat terkait program Iran. Kapal milik Yunani melakukan sekitar 35 penyeberangan, sementara sejumlah kapal dari Tiongkok dan India juga tetap melintas.

Sebagian kapal yang melintas melalui sistem jalur aman yang diberikan oleh Iran. Banyak kapal lainnya memilih menunggu konflik mereda karena tingginya biaya asuransi dan risiko serangan terhadap awak maupun muatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....