Menteri Bahlil Ungkap Tiga Kesepakatan Sektor Energi Indonesia-Korsel
- 02 Apr 2026 17:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap tiga kesepakatan strategis Indonesia dan Korea Selatan di sektor energi dan mineral
- Tiga dokumen yang disepakati mencakup kerja sama energi bersih, pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS), serta mineral kritis
- Bahlil mengungkapkan kedua negara mendorong pengembangan teknologi serta peningkatan investasi, mencakup perdagangan energi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia
RRI.CO.ID, Seoul - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap tiga kesepakatan strategis Indonesia dan Korea Selatan di sektor energi dan mineral. Tiga dokumen yang disepakati mencakup kerja sama energi bersih, pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS), serta mineral kritis
Kesepakatan tersebut diteken dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan. Penandatanganan dilakukan di hadapan Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, Rabu, 1 April 2026.
"Baru saja kita tanda tangani kerja sama energi di hadapan Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung. Ini sangat penting bagi kedua negara dalam menghadapi kemungkinan lahirnya risiko gangguan pasokan energi di wilayah kawasan," ujar Bahlil.
Dalam kerja sama energi bersih, Bahlil mengungkapkan kedua negara mendorong pengembangan teknologi serta peningkatan investasi. Kolaborasi juga mencakup perdagangan energi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Ruang lingkupnya, kata Bahlil, meliputi energi terbarukan, nuklir, hidrogen, hingga sistem penyimpanan dan efisiensi energi. Selain itu, kerja sama juga mencakup pengembangan baterai, bioenergi, hingga jaringan listrik pintar.
Kerja sama CCS difokuskan pada penangkapan dan penyimpanan emisi karbon secara lintas negara. Bahlil mengatakan langkah ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi sekaligus mendorong komersialisasi di sektor industri.
Kedua negara juga akan memfasilitasi riset dan pengembangan proyek terkait teknologi CCS. Upaya ini menjadi bagian dari strategi menekan emisi karbon secara berkelanjutan.
Di sektor mineral kritis, Bahlil mengatakan kerja sama mencakup eksplorasi hingga pengolahan dan daur ulang. Aspek keberlanjutan seperti standar lingkungan dan reklamasi pascatambang juga menjadi perhatian utama.
"Hasil kunjungan ini mencerminkan posisi aktif Indonesia dalam membangun diplomasi energi. Menjalin konsultasi dan berdiskusi atas penanganan perkembangan isu-isu energi terkini," ucap Bahlil.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya hubungan antara kedua negara. Presiden menyebut Korea Selatan sebagai mitra dekat yang perlu terus diperkuat kerja samanya.
“Saya menganggap Korea Selatan sebagai sahabat karib Indonesia. Saya ingin meningkatkan kerja sama ini,” ujar Presiden.
Menurut Presiden, Indonesia dan Korea Selatan memiliki potensi saling melengkapi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Presiden menilai keunggulan sumber daya Indonesia dan teknologi Korea dapat dikolaborasikan.
“Industri serta sains dan teknologi Anda sangat maju, kami memiliki banyak sumber daya, memiliki pasar yang besar. Kita bisa saling melengkapi satu sama lain,” ucap Presiden Prabowo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....