Penutupan Selat Hormuz Picu Dampak Ekonomi Luas di Asia
- 01 Apr 2026 14:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Penutupan efektif Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak global, sementara sekitar 90 persen pasokan energi yang melewati jalur tersebut ditujukan ke negara-negara Asia.
- Sejumlah negara Asia menerapkan langkah penghematan energi, seperti kerja dari rumah, pembatasan penggunaan bahan bakar, hingga hari libur tambahan untuk mengurangi konsumsi.
- Dampak ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari turunnya pendapatan pekerja transportasi dan petani, hingga penutupan industri dan meningkatnya kecemasan akibat krisis energi.
RRI.CO.ID, Manila — Penutupan efektif Selat Hormuz akibat perang Iran telah menimbulkan dampak besar secara global. Harga minyak melonjak dan pasar saham bergejolak, sementara sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur tersebut.
Saat ini hanya sedikit kapal yang dapat melintas setiap hari, dan serangan terhadap infrastruktur energi semakin mendorong kenaikan harga. Asia menjadi kawasan yang paling terdampak, dilansir dari BBC News, Rabu, 1 April 2026.
Hal tersebut karena sekitar 90 persen minyak dan gas dari selat itu menuju negara-negara di kawasan tersebut. Berbagai pemerintah di Asia mulai menerapkan langkah penghematan energi, seperti kerja dari rumah dan pemangkasan minggu kerja.
Tiongkok bahkan membatasi kenaikan harga bahan bakar meskipun harga telah naik sekitar 20 persen. Di Filipina, pemerintah menetapkan keadaan darurat energi nasional.
Sopir jeepney mengalami penurunan pendapatan drastis, sementara nelayan dan petani juga kesulitan akibat mahalnya bahan bakar. Bantuan tunai pemerintah dinilai belum cukup untuk mengatasi kondisi tersebut.
Di Thailand, kampanye penghematan energi dilakukan melalui media publik. Warga diminta menaikkan suhu pendingin ruangan dan bekerja dari rumah, serta didorong menggunakan transportasi umum.
Sri Lanka memberlakukan langkah penghematan, termasuk hari libur tambahan untuk mengurangi konsumsi energi. Namun warga menghadapi antrean panjang bahan bakar, dan pekerja yang bergantung pada bahan bakar kesulitan mencari nafkah.
Myanmar menerapkan kebijakan kendaraan pribadi bergantian hari untuk menghemat pasokan. Warga harus menyesuaikan aktivitas sosial mereka, sementara kekhawatiran muncul terkait potensi pasar gelap bahan bakar.
Di India, kekurangan gas dan minyak menyebabkan industri keramik di Gujarat berhenti beroperasi, memengaruhi sekitar 400.000 pekerja. Restoran di Mumbai juga banyak yang tutup sebagian akibat keterbatasan gas memasak.
Vietnam menurunkan pajak bahan bakar untuk menekan harga, tetapi biaya operasional pabrik tetap meningkat tajam. Korea Selatan juga menghadapi kekhawatiran krisis energi, dengan sebagian warga mulai menimbun barang tertentu.
Meski kehidupan sehari-hari belum berubah drastis, warga di berbagai negara Asia mulai merasakan kecemasan ekonomi. Dampak perang yang terjadi jauh dari wilayah mereka turut memicu kekhawatiran tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....