Penutupan Selat Hormuz Guncang Pasokan Energi Asia

  • 03 Mar 2026 15:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Teheran — Negara-negara Asia mulai merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya serangan udara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sementara itu, puluhan kapal tanker minyak masih tertahan di dekat Selat Hormuz, salah satu koridor energi paling vital di dunia.

Melansir dari Anadolu, Selasa, 3 Maret 2026, gangguan keamanan di jalur tersebut memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas pasokan energi global. Sejumlah operator pelayaran telah menangguhkan transit melalui selat itu akibat melonjaknya biaya asuransi dan meningkatnya risiko keamanan.

Media Iran bahkan melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade. Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun hingga 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026.

Tiongkok menggambarkan jalur tersebut sebagai rute perdagangan internasional yang sangat penting dan mendesak penghentian segera operasi militer. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menekankan stabilitas di selat dan perairan sekitarnya sangat krusial bagi perdagangan global.

Mao Ning juga menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Dampaknya terasa kuat di Jepang, yang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah.

Sebagian besar dari minyak tersebut melewati Selat Hormuz. Lebih dari 40 kapal terkait Jepang, termasuk kapal tanker minyak, dilaporkan tertahan di Teluk Persia.

Selain itu, sedikitnya tiga kapal menghentikan upaya melintasi jalur tersebut. Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, meminta Duta Besar Iran di Tokyo untuk membantu memastikan keamanan selat tersebut.

Ia juga berjanji akan terus melakukan upaya diplomatik guna mencapai penyelesaian yang cepat atas situasi yang berkembang. Malaysia juga telah menyarankan kapal-kapalnya untuk menghindari selat hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Malaysia juga meminta operator memantau perkembangan keamanan internasional dengan cermat. Pakistan menyiapkan rencana darurat, mencari pasokan minyak melalui rute Laut Merah jika gangguan berlangsung lebih dari 10 hingga 12 hari.

Saat ini, dua kapal tanker Pakistan masih tertahan, sementara satu kapal lainnya diperkirakan belum dapat berlayar dalam waktu dekat. Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari.

Jalur tersebut juga menjadi jalur utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Gangguan berkepanjangan di jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi global dan memperburuk tekanan ekonomi di berbagai negara Asia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....