Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Presiden Diharapkan "Turun Gunung"
- 30 Mar 2026 09:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi XII DPR berharap Presiden Prabowo Subianto turun gunung melakukan upaya diplomasi langsung dengan Iran terkait tertahannya kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz.
RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi XII DPR, Syafruddin, terus menyoroti nasib kapal tanker Pertamina yang tertahan di kawasan Selat Hormuz. Politikus PKB itu berharap Presiden Prabowo Subianto “turun gunung” melakukan upaya diplomasi langsung dengan Iran.
Menurut dia, situasi geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas tidak bisa ditangani hanya melalui jalur teknis kementerian. Hal ini membutuhkan komunikasi tingkat tinggi antarpemimpin negara Indonesia dengan Iran.
“Masalah kapal Pertamina (di Selat Hormuz) memerlukan lobi langsung dari Presiden,” ujarnya, Senin 30 Maret 2026. “Tidak cukup ditangani Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atau Menteri Luar Negeri, apalagi pejabat di bawahnya.”
Syafruddin mengungkapkan langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Namun, semua itu perlu ditingkatkan ke level strategis agar hasilnya lebih cepat dan efektif.
“Upaya Kemlu dan jajarannya sudah tepat, tetapi ini menyangkut jalur energi global dan keselamatan aset Negara,” ucapnya. Karena itu, lanjut dia, Presiden perlu turun langsung agar memiliki daya tekan diplomatik yang lebih kuat.
Syafruddin mengingatkan Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Sehingga gangguan di wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga stabilitas energi global.
"Keterlibatan langsung Presiden akan memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara non-blok,” ujarnya. Apalagi, lanjut dia, Indonesia memiliki hubungan baik dengan banyak pihak, termasuk Iran.
Dua kapal tanker Pertamina saat ini tertahan di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Kebijakan penutupan selat tersebut oleh Iran merupakan respons atas konfliknya dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Teheran saat ini masih melakukan diplomasi intensif. Semua itu bertujuan untuk memastikan keselamatan kapal beserta awaknya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....