WTO Peringatkan Krisis Pupuk akibat Perang Timur Tengah
- 26 Mar 2026 15:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pejabat WTO memperingatkan perang Timur Tengah berpotensi memicu krisis pupuk global yang mengancam ketahanan pangan akibat kelangkaan dan kenaikan harga.
- Iran hampir menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar sepertiga pupuk dunia, sehingga mengganggu musim tanam dan produksi pangan.
- Negara yang bergantung pada impor pupuk seperti India, Thailand, dan Brasil serta wilayah Afrika Barat dan Afrika Utara menghadapi risiko terbesar terhadap pasokan pangan.
RRI.CO.ID, Yaounde - Pejabat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah berpotensi memicu krisis pupuk global. Hal tersebut dapat mengancam ketahanan pangan dunia, dilansir dari The Straits Times, Kamis, 26 Maret 2026.
Gangguan pasokan pupuk dinilai menimbulkan ancaman ganda berupa kelangkaan dan kenaikan harga yang berdampak langsung pada produksi pangan. Iran dilaporkan hampir menutup Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui minyak, bahan bakar, dan pupuk.
Sekitar sepertiga pupuk dunia biasanya melewati selat tersebut, sehingga gangguan distribusi memicu kekhawatiran terhadap musim tanam mendatang. Wakil Direktur Jenderal WTO, Jean-Marie Paugam, mengatakan kekurangan pupuk tidak hanya mengurangi hasil panen tetapi mendorong kenaikan harga pangan.
Kawasan Teluk dikenal sebagai produsen utama pupuk karena pasokan gas alam yang melimpah sebagai bahan baku. Namun, perang telah menghambat produksi dan memaksa beberapa fasilitas besar menghentikan operasi.
Negara eksportir pangan seperti India, Thailand, dan Brasil sangat bergantung pada pasokan urea dari kawasan tersebut. Hal tersebut menyebabkan negara-negara itu menghadapi risiko signifikan.
Meski saat ini belum terjadi kekurangan pupuk, WTO memperingatkan dampaknya dapat terasa ketika musim tanam dimulai untuk panen tahun depan. Paugam menegaskan, jika Selat Hormuz diblokir selama tiga bulan, dampaknya terhadap pasokan global akan sangat besar.
Negara pengimpor pangan, terutama di Afrika Barat dan Afrika Utara, diperkirakan paling rentan terhadap kondisi ini. Ia juga mengingatkan bahwa penimbunan pasokan oleh negara-negara dapat memperburuk situasi.
Hal serupa pernah terjadi saat gangguan perdagangan global pada masa pandemi COVID-19. Menurutnya, risiko perang Timur Tengah berpotensi menghambat kembali upaya global untuk menghapus kelaparan pada 2030.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....