Penutupan Selat Hormuz Guncang Pasar Pupuk Global
- 11 Mar 2026 14:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Teheran — Penutupan Selat Hormuz memicu guncangan di pasar pertanian global karena menghambat ekspor energi dan nutrisi tanaman untuk produksi pupuk. Gangguan tersebut menyebabkan fluktuasi harga di pasar pertanian dunia serta menekan pasokan bahan baku pupuk.
Industri pupuk global menghadapi tekanan besar, terutama produk seperti urea dan fosfat yang bergantung pada pasokan kawasan Teluk. Harga pupuk dilaporkan mulai meningkat seiring terhambatnya ekspor dari wilayah tersebut, dilansir dari Anadolu, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurut International Fertilizer Association (IFA), lima produsen utama di kawasan Teluk menyumbang sekitar 34 persen perdagangan urea global pada 2024. Negara-negara tersebut adalah Iran, Qatar, Arab Saudi, UEA, dan Bahrain, yang juga menguasai sekitar 23 persen perdagangan amonia dunia.
Hampir setengah perdagangan urea global berasal dari kawasan Timur Tengah, dengan sekitar 18,5 juta ton urea melewati Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan besarnya peran kawasan tersebut dalam memasok bahan baku pupuk dunia.
Produksi urea bergantung pada gas alam yang menyumbang sekitar 80 hingga 90 persen biaya produksi amonia, bahan utama pupuk nitrogen. Selat Hormuz juga menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global serta pengiriman sulfur dunia.
Bahan tersebut digunakan untuk mengolah batuan fosfat menjadi pupuk fosfat. Karena itu, gangguan terhadap perdagangan minyak dan gas di jalur tersebut dapat berdampak luas pada rantai pasok pupuk global.
Situasi ini juga menimbulkan risiko bagi beberapa negara produsen pupuk, termasuk Mesir yang merupakan pemasok urea penting bagi Uni Eropa. Industri pupuk Mesir bergantung pada gas alam impor, dengan Israel sebagai salah satu pemasok utamanya.
Jika konflik di kawasan meluas atau rute pengiriman alternatif tidak mampu menutupi gangguan tersebut, produksi pupuk Mesir berpotensi menurun. Kondisi ini dapat memperketat pasokan pupuk global.
Penutupan Selat Hormuz juga memaksa eksportir mencari jalur pengiriman alternatif. Namun, gangguan ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan pada rantai pasok pangan global, sekaligus mendorong kenaikan harga makanan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....