Harga Diesel Vietnam Melonjak, Pemerintah Usulkan Pemangkasan

  • 26 Mar 2026 16:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Harga diesel di Vietnam melonjak lebih dari dua kali lipat, naik sekitar 105 persen sejak konflik Timur Tengah, sementara bensin oktan 95 juga meningkat hampir 68 persen.
  • Gangguan pasokan global akibat terhentinya jalur minyak di Selat Hormuz mendorong Vietnam mencari dukungan energi dari Qatar, Kuwait, Algeria, dan Japan serta menjalin kerja sama dengan Rusia.
  • Dampak kenaikan harga dirasakan masyarakat, termasuk warga Hanoi yang berhenti mengemudikan truk dan beralih bersepeda karena biaya operasional kendaraan menjadi tidak ekonomis.

RRI.CO.ID, Hanoi - Harga diesel di Vietnam melonjak lebih dari dua kali lipat sejak perang di Timur Tengah dimulai. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan harga diesel naik sekitar 105 persen sejak 26 Februari, dua hari sebelum serangan terhadap Iran.

Negara-negara di seluruh dunia berupaya menghemat bahan bakar setelah jalur minyak vital di Selat Hormuz terhenti. Para pemimpin global mendesak Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Pemerintah Vietnam menaikkan harga menjadi 39.660 dong (Rp25.439) per liter dari sebelumnya 19.270 dong (Rp12.360). Harga bensin oktan 95 juga meningkat hampir 68 persen menjadi 33.840 dong (Rp21.708), dilansir dari CNA, Kamis, 26 Februari.

Lonjakan harga minyak global akibat konflik tersebut memicu kekhawatiran kekurangan pasokan bahan bakar. Untuk mengantisipasi kondisi ini, Vietnam meminta dukungan energi dari beberapa negara, termasuk Qatar, Kuwait, Algeria, dan Japan.

Selain itu, pemerintah juga menandatangani kesepakatan kerja sama produksi minyak dan gas dengan Rusia. Kementerian Keuangan Vietnam turut mengusulkan pemangkasan setengah pajak perlindungan lingkungan untuk bensin dan diesel guna menekan dampak kenaikan harga.

Dampak lonjakan tersebut sudah dirasakan masyarakat. Seorang warga Hanoi mengaku tidak lagi mengemudikan truknya selama dua minggu terakhir.

Ia memilih bersepeda untuk menghemat biaya. Menurutnya, harga diesel yang sangat tinggi membuat operasional kendaraan tidak ekonomis dan menyulitkannya menjual truk karena minimnya minat pengguna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....