Sri Lanka Hemat Energi akibat Krisis Minyak Global

  • 26 Mar 2026 16:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Krisis energi global terjadi akibat terhentinya jalur minyak di Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak dunia melampaui 100 dolar per barel dan memicu negara-negara menghemat bahan bakar.
  • Pemerintah Sri Lanka menerapkan langkah penghematan energi, termasuk mematikan lampu jalan dan reklame, mengurangi penggunaan AC, serta memberlakukan pekan kerja empat hari dan kerja dari rumah untuk menekan konsumsi hingga 25 persen.
  • Presiden Anura Kumara Dissanayake memperingatkan risiko pemadaman listrik nasional, meminta pemilik mobil listrik tidak mengisi daya semalaman, karena lonjakan permintaan listrik memaksa penggunaan lebih banyak batu bara dan diesel.

RRI.CO.ID, Kolombo - Negara-negara di seluruh dunia berupaya menghemat bahan bakar setelah jalur minyak vital di Selat Hormuz terhenti. Jalur tersebut berhenti akibat meningkatnya konflik di Iran.

Situasi ini mendorong harga minyak dunia melampaui 100 dolar (Rp1,6 juta) per barel. Meski demikian, para pemimpin global mendesak Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Dampak lonjakan harga energi mulai dirasakan oleh berbagai negara, termasuk Sri Lanka yang segera mengambil langkah penghematan. Pemerintah Sri Lanka memerintahkan lampu jalan, papan neon, dan pencahayaan papan reklame dimatikan, dilansir dari Daily Mail.

Perintah tersebut diberlakukan mulai Selasa, 24 Maret 2026 untuk mengurangi konsumsi energi sebesar 25 persen. Selain itu, seluruh lembaga negara diminta menghemat listrik dengan mengurangi penggunaan pendingin udara.

Kebijakan ini diambil ketika perang di Timur Tengah memasuki minggu keempat dan terus mendorong kenaikan harga minyak serta gas. Sri Lanka juga telah menaikkan harga bahan bakar hingga sepertiga sejak perang dimulai.

Pemerintah menekankan pentingnya pengurangan konsumsi energi secara menyeluruh dan berharap swasta turut mematuhi pedoman penghematan yang telah disusun. Pemerintah memperkenalkan pekan kerja empat hari dan kembali menerapkan sistem kerja dari rumah untuk mengurangi tekanan transportasi.

Langkah tambahan mencakup pemadaman lampu iklan setelah pukul 21.00 serta pembatasan lampu jalan. Penggunaan lampu jalan dibatasi hanya tetap menyala di area keamanan tinggi.

Seorang pejabat kementerian energi menyatakan bahwa permintaan listrik puncak saat ini dipenuhi menggunakan batu bara dan diesel. Kondisi tersebut membuat negara menghadapi risiko pemadaman listrik nasional jika konsumsi tidak dikurangi secara drastis.

Presiden Anura Kumara Dissanayake meminta pemilik mobil listrik menghindari pengisian daya semalaman. Ia menilai lonjakan permintaan hingga 300 megawatt memaksa negara membakar lebih banyak bahan bakar fosil.

Sekitar setengah listrik Sri Lanka berasal dari batu bara dan diesel, sementara sistem penyimpanan energi terbarukan belum tersedia. Kondisi ini membuat upaya penghematan energi menjadi semakin mendesak di tengah ketidakpastian pasokan global akibat konflik yang masih berlangsung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....