Blokade Selat Hormuz, Negara Asia Mana yang Paling Terdampak?

  • 06 Mar 2026 13:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Teheran — Blokade di Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar di pasar energi global setelah Iran menyatakan jalur strategis tersebut ditutup. Selat yang berada di antara Iran dan Oman ini merupakan salah satu jalur paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Melansir dari CNBC, Jumat, 6 Maret 2026, sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati rute Selat Hormuz pada 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar 31 persen dari seluruh pengiriman minyak mentah melalui laut, menurut data perusahaan konsultan energi Kpler.

Penutupan berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga minyak global. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat menembus 100 dolar per barel.

Sementara itu, patokan global Brent crude oil telah naik sekitar 2,6 persen menjadi sekitar 80 dolar per barel. Angka tersebut hampir 10 persen lebih tinggi sejak konflik dimulai, pasokan gas alam cair atau LNG juga menghadapi ancaman serius.

Sekitar 20 persen ekspor LNG dunia berasal dari Teluk Persia, terutama dari Qatar yang mengirimkan energinya melalui Selat Hormuz. Qatar menghentikan produksi setelah serangan drone Iran menghantam fasilitas energi di Ras Laffan Industrial City dan Mesaieed Industrial City.

Dampak terbesar diperkirakan akan dirasakan negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada impor energi. Negara seperti Thailand, India, Korea Selatan, dan Filipina dinilai paling rentan terhadap lonjakan harga minyak.

Sementara itu, Malaysia justru berpotensi diuntungkan karena merupakan eksportir energi. Di Asia Selatan, gangguan pasokan LNG diperkirakan paling terasa.

Pakistan dan Bangladesh dianggap sangat rentan karena cadangan energi yang terbatas serta fleksibilitas pengadaan yang rendah. India menghadapi paparan risiko besar karena lebih dari separuh impor LNG dan 60 persen impor minyaknya dari Timur Tengah.

Kondisi ini dapat meningkatkan biaya impor energi sekaligus menekan neraca transaksi berjalan negara tersebut. Tiongkok juga memiliki paparan signifikan terhadap jalur energi tersebut karena sebagian impor minyaknya melewati Selat Hormuz.

Namun Tiongkok dinilai memiliki cadangan energi yang cukup untuk menjadi penyangga sementara jika gangguan berlangsung dalam jangka pendek. Dengan meningkatnya ketegangan, para analis memperingatkan krisis ini dapat memicu persaingan energi yang lebih ketat di Asia.

Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong lonjakan harga energi di kawasan tersebut. Jika blokade berlangsung lama, dampaknya tidak hanya dirasakan pasar energi tetapi juga dapat mengguncang perekonomian global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....