USTDA Danai Proyek Percontohan Teknologi Pengolahan Mineral Kritis di Indonesia
- 17 Mar 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Arlington - Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung penerapan teknologi inovatif asal Amerika Serikat di Indonesia. Teknologi ini untuk mendiversifikasi rantai pasok mineral kritis AS dengan meningkatkan pengolahan litium dari operasi energi panas bumi di Indonesia.
Melalui proyek percontohan yang didanai USTDA, Lilac Solutions, Inc. (Lilac) yang berbasis di California akan mendemonstrasikan teknologinya. Yaitu, di fasilitas milik pengembang panas bumi milik BUMN Indonesia, PT Geo Dipa Energi (GDE).
Fasilitas ini akan menjadi yang pertama di Indonesia yang mengekstraksi litium dari air panas bumi. Proyek ini akan menciptakan sumber pasokan litium yang tepercaya, komponen penting bagi banyak teknologi modern, sekaligus mendukung sumber energi vital bagi Indonesia.
“Keamanan dan kemakmuran Amerika bergantung pada akses terhadap mineral kritis dari sumber yang tepercaya. Proyek ini menyoroti nilai solusi AS membangun rantai pasok tangguh dan mendorong pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab bersama mitra kami di Indonesia,” kata Wakil Direktur USTDA, Thomas R. Hardy.
Lilac akan menerapkan teknologi pengolahan litium langsung berbasis pertukaran ion di lapangan panas bumi Dieng, Jawa Tengah. Kemudian, untuk menunjukkan metode bertanggung jawab dan efektif dalam pengolahan serta pemurnian litium menjadi litium karbonat berkualitas tinggi.
Dukungan USTDA juga akan menghubungkan GDE dengan calon pembeli litium karbonat asal AS. Proyek ini bertujuan menarik pendanaan ekspansi di masa depan dan membuka peluang baru bagi lanskap panas bumi di Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik.
“Dukungan USTDA menandai langkah penting dalam memperkuat kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan litium. Serta, mempererat kolaborasi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Direktur Utama GDE, Yudistian Yunis.
Adapun, inisiatif ini dapat mendukung pengembangan industri baterai Indonesia dan aplikasi litium domestik lainnya dengan membuka nilai tambah dari sumber daya terbarukan. “Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada,” ujar Yudistian.
“Sehingga, kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan, " katanya.
Raef Sully, CEO Lilac, mengatakan, USTDA membuka peluang bagi perusahaan teknologi AS untuk bersaing secara global. Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan.
Adapun kesepakatan proyek pendaanaan dari Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) ditandai dengan penandatanganan MoU (Nota Kesepahaman). Penandatanganan berlangsung Senin, 16 Maret 2026 di Arlington, AS yang turut dihadiri Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....