Indonesia Enggan Dukung Resolusi DK PBB yang Kurang Berimbang pada Iran
- 15 Mar 2026 14:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri RI Nabyl Mulachela menyatakan Indonesia tidak menjadi pengusul bersama (co-sponsor) dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817. Resolusi tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Nabyl mengatakan keputusan tersebut diambil karena resolusi tersebut dinilai kurang mencerminkan prinsip keberimbangan. "Jadi memang kita mengikuti bahwa dalam resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817, Indonesia tidak menjadi co-sponsor," katanya dalam press briefing, Jumat, 13 Maret 2026 di Jakarta.
Adapun, Rabu, 11 Maret 2026 DK PBB mengadopsi Resolusi 2817 yang mengutuk aksi Iran dan menganggapnya sebagai tindakan "tercela". Karena, telah melancarkan serangan ke wilayah-wilayah tetangganya di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam resolusi tersebut, DK PBB mengecam serangan Iran di sejumlah negara seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Serta, mengutuk keras serangan yang menargetkan kawasan permukiman dan objek-objek sipil.
Dewan tersebut juga meminta Iran untuk segera menghentikan ancaman dan provokasi yang mengganggu aktivitas perdagangan maritim di kawasan tersebut. Resolusi tersebut diadopsi setelah 13 dari 15 anggota DK PBB menyetujui draf resolusi tersebut.
Sementara dua anggota lainnya, yakni Tiongkok dan Rusia, memilih abstain. Resolusi tersebut juga mendapatkan dukungan dari hampir 140 negara anggota PBB, namun Indonesia tidak tercantum sebagai salah satu negara pengusul bersama.
Nabyl menambahkan Indonesia pada prinsipnya mengapresiasi upaya inklusivitas dalam penyusunan draf resolusi tersebut. Kendati demikian, menurutnya prinsip keberimbangan juga perlu dijaga agar keputusan yang dihasilkan tidak hanya konkret tetapi juga adil bagi semua pihak.
Oleh karenanya, alih-alih mendukung resolusi tersebut, Indonesia berpandangan bahwa diplomasi tetap menjadi kunci utama dalam mengakhiri konflik di Timur Tengah. Khususnya, antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"Dalam hal ini, Indonesia berpandangan upaya-upaya untuk menyelesaikan konflik perlu tetap dilakukan secara damai dan melalui jalur diplomasi. Tapi, juga mengedepankan aspek keberimbangan dan inklusivitas," ujarnya menekankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....