Bandara UEA Lanjutkan Penerbangan Terbatas di tengah Konflik
- 03 Mar 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Dubai - Uni Emirat Arab melanjutkan sejumlah penerbangan secara terbatas di tengah kekacauan perjalanan yang masih melanda kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut dipicu oleh perang gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 3 Maret 2026.
Otoritas bandara Dubai mengizinkan sebagian kecil penerbangan kembali beroperasi dari Bandara Internasional Dubai dan Dubai World Central. Meski demikian, situasi wilayah udara regional masih belum stabil.
Pihak bandara menegaskan, penumpang tidak boleh membuat rencana perjalanan kecuali telah menerima konfirmasi resmi dari maskapai terkait waktu keberangkatan. Maskapai Emirates mengumumkan dimulainya kembali penerbangan terbatas pada Senin, 2 Maret 2026 malam.
Maskapai tersebut menyatakan bahwa pelanggan dengan pemesanan sebelumnya akan diprioritaskan. Sementara itu, Etihad Airways menyebutkan bahwa penerbangan komersial reguler masih ditangguhkan hingga Rabu, 4 Maret 2026.
Namun, maskapai tersebut membuka kemungkinan pelaksanaan penerbangan reposisi, kargo, dan repatriasi, tergantung pada persetujuan operasional dan keselamatan. Berdasarkan data dari situs pelacak penerbangan Flightradar24, sedikitnya 16 penerbangan Etihad berangkat dari Abu Dhabi pada Senin.
Penerbangan tersebut menuju sejumlah kota seperti London, Amsterdam, Moskow, dan Riyadh. Dua penerbangan Emirates dari Dubai juga dilaporkan mendarat di Mumbai dan Chennai pada Selasa dini hari.
Meski demikian, gangguan masih terjadi. Selasa pagi, dua penerbangan Etihad menuju Abu Dhabi dialihkan ke Muscat, satu penerbangan Emirates ke Dubai berbalik ke Mumbai.
Pengalihan rute tersebut mencerminkan kondisi wilayah udara yang masih penuh ketidakpastian. Sejumlah negara seperti Irak, Yordania, Qatar, dan Bahrain telah menutup wilayah udara mereka di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Penutupan ini membuat perjalanan udara di Timur Tengah nyaris lumpuh total. Perusahaan analisis penerbangan Cirium mencatat lebih dari 11.000 penerbangan masuk dan keluar kawasan dibatalkan sejak konflik dimulai, Sabtu, 28 Februari 2026.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah pemerintah mempertimbangkan langkah-langkah pemulangan warga negaranya yang terdampak. Analis penerbangan memperingatkan, jika konflik berlangsung lebih dari beberapa minggu, dampaknya terhadap industri maskapai bisa bersifat jangka panjang.
Rute-rute utama berisiko ditangguhkan tanpa batas waktu. Sementara itu, lalu lintas penerbangan dapat bergeser ke jalur dan pusat transit alternatif yang dinilai lebih aman dan stabil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....