Jejak Diplomasi RI-Yordania: Dari Persahabatan Militer ke Poros Perdamaian

  • 26 Feb 2026 12:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Yordania pada Ramadan 2026 menandai babak penting diplomasi kedua negara. Lawatan ini menjadi simbol penguatan hubungan historis dan personal antara Jakarta dan Amman.

Yordania tercatat sebagai negara Muslim pertama yang dikunjungi Presiden Prabowo pada bulan suci tahun ini. Momentum ini memperlihatkan prioritas diplomasi Indonesia di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam.

Kunjungan tersebut merupakan balasan atas lawatan Raja Kerajaan Yordania, Raja Abdullah II ke Jakarta pada November 2025 lalu. Hubungan keduanya melampaui protokol kenegaraan dan berakar pada persahabatan lama.

Persahabatan Militer yang Mengakar Sejak Muda

Relasi personal tersebut terjalin sejak keduanya menempuh pendidikan militer di Fort Benning, Amerika Serikat. Ikatan sebagai prajurit muda berlanjut ketika mereka meniti karier militer di negara masing-masing.

Pada 1995, saat Prabowo menjabat Komandan Kopassus, komunikasi keduanya tetap terjaga erat. Hubungan itu semakin kokoh setelah dinamika politik Indonesia pada tahun 1998.

Kala itu, Prabowo diterima baik oleh Hussein bin Talal dan Pangeran Abdullah. Sejak momen tersebut, hubungan personal berkembang menjadi fondasi diplomasi bilateral.

Presiden Prabowo Subianto (kanan) bersama pangeran Yordania, Abdullah II (ketiga dari kiri) yang kini menjadi Raja Kerajaan Yordania (Foto: dokumentasi/ANRI)

Kedekatan itu kembali terlihat saat Raja Abdullah II berkunjung ke Jakarta pada 14-15 November 2025. Presiden Prabowo menjemput langsung sang Raja di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Keduanya berpelukan hangat di bawah tangga pesawat kenegaraan Yordania. Gestur tersebut dipandang sebagai simbol persahabatan personal sekaligus kepercayaan politik.

Pemerintah Indonesia bahkan mengawal pesawat Raja dengan jet tempur F-16 sejak memasuki wilayah udara nasional. Prosesi kenegaraan di Istana Merdeka berlangsung khidmat dan penuh kehormatan.

Presiden Prabowo menyambut ketibaan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Jumat, 14 November 2025 (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menerima tanda jasa The Bejeweled Grand Cordon of Al-Nahda. Penghargaan tersebut mencerminkan eratnya hubungan diplomatik kedua negara.

Pada April 2025, Presiden Prabowo juga telah melakukan kunjungan kenegaraan ke Amman. Di Istana Al Husseiniya, PresidenPrabowo menyebut Raja Abdullah II sebagai sahabat lama sejak muda.

Raja Abdullah II membalas dengan menyatakan persahabatan mereka tidak pernah dilupakan. Relasi personal ini menjadi jembatan efektif mempercepat kesepahaman strategis.

Sinergi Regional dan Isu Strategis Palestina

Dalam konteks regional, Indonesia dan Yordania memiliki kepedulian sama terhadap isu Palestina. Keduanya konsisten mendukung solusi dua negara dalam berbagai forum internasional.

Ramadan 2026 memberi dimensi spiritual dalam kunjungan Presiden Prabowo ke Amman. Suasana religius memperkuat pesan solidaritas dan keadilan bagi dunia Islam.

Yordania memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Palestina. Indonesia membawa legitimasi moral sebagai negara Muslim terbesar dunia.

Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Raja Abdullah II Ibn Al Hussein dari Yordania (kanan) yang berlangsung di Istana Basman, Amman, Yordania, Rabu 25 Februari 2026 (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Kedua negara juga aktif dalam forum Dewan Perdamaian Internasional atau Board of Peace. Sinergi ini memperkuat posisi diplomatik menuju stabilitas kawasan.

Dalam pertemuan Board of Peace sebelumnya di Washington D.C., Presiden Prabowo melakukan sejumlah komunikasi strategis. Indonesia bahkan diminta berpartisipasi dalam International Stabilization Force di Gaza.

Kerja Sama Ekonomi dan Poros Moderasi Dunia Islam

Di luar isu politik, kerja sama ekonomi menjadi agenda penting hubungan bilateral. Sejumlah nota kesepahaman ditandatangani mencakup pertahanan, pertanian, pendidikan, dan keagamaan.

Yordania dikenal unggul dalam teknologi pertanian lahan kering dan irigasi presisi. Indonesia memandang pengalaman tersebut relevan bagi penguatan ketahanan pangan nasional.

Sebaliknya, Indonesia menawarkan potensi pasar besar industri halal dan farmasi. Kolaborasi pendidikan Islam dan pesantren menjadi jalur diplomasi lunak yang strategis.

Nilai potensi investasi kedua negara diperkirakan melampaui US$1,5 miliar. Tawaran proyek meliputi pipanisasi gas, jalan tol, dan sektor logistik.

Fakta bahwa Yordania menjadi negara Muslim pertama dikunjungi pada Ramadan 2026 sarat makna simbolik. Hal ini menegaskan orientasi diplomasi Indonesia pada kemitraan moderat dan konstruktif.

Dalam politik internasional modern, kedekatan personal pemimpin sering mempercepat pengambilan keputusan. Persahabatan Presiden Prabowo dan Raja Abdullah II menjadi modal diplomasi bernilai strategis.

Hubungan Indonesia dan Yordania menunjukkan diplomasi tidak semata soal angka perdagangan. Kepercayaan, sejarah persahabatan, dan visi perdamaian menjadi fondasi utamanya.

Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah, poros Jakarta-Amman berpotensi menjadi penyeimbang kawasan. Diplomasi Ramadan 2026 menegaskan komitmen kedua negara terhadap stabilitas dan perdamaian global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....