PBB: Jumlah Orang Kelaparan di Somalia Hampir Berlipat Ganda
- 25 Feb 2026 17:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Jumlah orang di Somalia yang menghadapi kerawanan pangan akut hampir berlipat ganda menjadi 6,5 juta sejak tahun lalu. Meningkatnya kasus kelaparan ini akibat kekeringan yang memburuk, konflik, dan harga pangan yang melonjak.
Hal itu berdasarkan laporan Integrated Phase Classification atau Klasifikasi Fase Terpadu (IPC) dari Program Pangan Dunia (WFP) PBB. Analisis baru yang dirilis Selasa, 24 Februari 2026 menyebutkan lebih dari 1,8 juta anak di bawah usia lima tahun juga berisiko mengalami kekurangan gizi akut antara sekarang hingga Juni.
Perkembangan yang mengkhawatirkan ini terjadi setelah hujan musim Deyr Oktober hingga Desember gagal dan produksi tanaman menurun. Mereka yang paling terdampak adalah petani miskin, peternak, dan pengungsi internal.
Di Somalia, kekeringan, ketidakamanan, dan konflik di wilayah tengah, selatan, dan beberapa bagian utara, yang dipicu oleh pemberontakan, persaingan memperebutkan sumber daya. Serta, berbagai faktor lain yang telah menyebabkan pengungsian sekaligus mengganggu mata pencaharian dan akses ke pasar.
Situasi ini semakin diperparah oleh tingginya harga pangan lokal dan impor, serta pengurangan bantuan kemanusiaan. IPC menggunakan skala satu hingga lima untuk mengukur tingkat keparahan kerawanan pangan yang membantu pemerintah dan para pekerja kemanusiaan mengklasifikasikan krisis.
Para ahli memperkirakan bahwa sebanyak 6,5 juta warga Somalia menghadapi kerawanan pangan akut, atau Fase 3 IPC ke atas. Dibandingkan dengan 3,4 juta pada kuartal pertama tahun 2025.
“Lebih dari dua juta berada pada tingkat darurat, atau Fase 4. Sebagian besar masyarakat pastoral dan agropastoral di wilayah utara, tengah, dan selatan diklasifikasikan dalam Fase 3,” kata IPC.
“Masyarakat ini menghadapi kesenjangan konsumsi pangan yang signifikan, meningkatnya kekurangan gizi akut. Dan, bergantung pada strategi penanggulangan krisis atau darurat hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar,"katanya.
Analisis IPC mengungkapkan tahun ini, 1,84 juta anak kecil menderita atau akan menderita kekurangan gizi akut, dengan 483.000 kasus kekurangan gizi akut parah (SAM). Kondisi ini juga dikenal sebagai “wasting” parah, adalah bentuk kekurangan gizi yang paling mematikan, menurut Dana Anak-Anak PBB (UNICEF).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....