Trump Kirim Kapal Induk Kedua ke Timteng
- 14 Feb 2026 14:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah. Kapal tersebut dikirimkan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Kapal induk USS Gerald R. Ford dijadwalkan berangkat “segera” untuk memperkuat kehadiran militer AS di kawasan tersebut. Trump menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapan jika situasi memburuk, dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 14 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memiliki “kekuatan yang sangat besar” bila diperlukan. Meski demikian, Trump mengatakan dirinya yakin negosiasi dengan Iran dapat berjalan sukses.
Namun, ia memperingatkan bahwa akan menjadi “hari yang buruk bagi Iran” jika gagal mencapai kesepakatan. Trump juga menyebut bahwa perubahan pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi.
Pernyataan itu muncul setelah perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Oman pekan lalu. Pengiriman USS Gerald R. Ford menambah penumpukan kekuatan militer AS di kawasan.
Sebelumnya, kapal induk Abraham Lincoln telah lebih dulu dikerahkan bersama sejumlah kapal perusak berpemandu rudal, jet tempur, dan pesawat pengintai. Ketegangan terbaru tidak lepas dari konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu.
Dalam konflik tersebut, Amerika Serikat sempat bergabung dengan menyerang tiga lokasi nuklir Iran dalam operasi militer bernama “Midnight Hammer”.
Saat itu, Trump mengklaim serangan tersebut telah sepenuhnya menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
Langkah Washington juga terjadi setelah pertemuan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington.
Netanyahu menyatakan harapannya terhadap tercapainya “kesepakatan yang baik”. Namun, menekankan bahwa perjanjian tersebut harus mencakup pembatasan program rudal balistik Iran.
Teheran secara terbuka menolak tekanan AS untuk membahas isu rudal tersebut. Perundingan terbaru ini menjadi yang pertama sejak konflik Juni.
Konflik tersbut menghentikan pembicaraan sebelumnya terkait kemungkinan pengganti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Kesepakatan nuklir tersebut sebelumnya membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi.
Namun, Trump menarik AS dari JCPOA pada 2018. Yang kemudian mendorong Iran memperkaya uranium melampaui batas yang ditetapkan.
Sementara itu, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengaku masih menghadapi kesulitan dalam mengakses lokasi-lokasi yang menjadi sasaran. Negara-negara Arab Teluk memperingatkan bahwa setiap eskalasi militer berpotensi memicu konflik regional baru di kawasan yang masih diliputi ketidakstabilan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....