Iran Tolak Ancaman Trump, Siap Hadapi Serangan AS

  • 29 Jan 2026 15:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Teheran - Iran menolak ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menegaskan kesiapan untuk merespons setiap kemungkinan serangan dari Washington. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 29 Januari 2026.

Ia mengatakan, angkatan bersenjata Iran siap bertindak secara segera dan kuat terhadap agresi di darat, laut, maupun udara. Pernyataan tersebut muncul setelah Trump kembali melontarkan ancaman aksi militer.

Trump juga mendesak Teheran untuk bernegosiasi atau menghadapi pengerahan armada Amerika Serikat. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan armada AS siap bertindak cepat dan keras jika diperlukan.

Presiden AS tersebut juga menuntut kesepakatan nuklir tanpa senjata nuklir serta memperingatkan waktu untuk bernegosiasi hampir habis. Trump juga mengisyaratkan serangan berikutnya akan jauh lebih buruk, merujuk pada pemboman fasilitas nuklir Iran sebelumnya.

Sementara itu, Iran menyatakan telah mengambil pelajaran dari serangan Israel dan Amerika Serikat tahun lalu. Araghchi menilai pengalaman Perang 12 Hari telah memperkuat kesiapan militer negaranya dalam menghadapi ancaman baru.

Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut sebagai unjuk kekuatan Washington untuk menekan Iran agar mau kembali ke meja perundingan.

AS disebut ingin menghentikan program nuklir dan rudal Iran, yang dianggap mengganggu keseimbangan kekuatan regional. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil dan menegaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium.

Namun, keberadaan uranium Iran yang diperkaya tinggi masih belum diketahui sejak serangan pada Juni lalu, sehingga menambah kekhawatiran internasional. Di dalam negeri, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam ancaman Amerika Serikat dan menyebutnya hanya akan memicu ketidakstabilan kawasan.

Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi selama masih berada di bawah ancaman serangan. Meski demikian, Teheran tetap membuka peluang bagi kesepakatan nuklir yang adil dan setara tanpa tekanan militer.

Upaya diplomatik terus dilakukan oleh para mediator internasional untuk meredakan krisis. Turki menyatakan Iran siap kembali berunding mengenai isu nuklir jika kondisi memungkinkan.

Sementara itu, ketegangan regional terlihat dari digelarnya latihan militer di sekitar Selat Hormuz. Sejumlah negara kawasan juga menolak wilayah udaranya digunakan untuk serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....