Harbin, Kota Es di Tiongkok dengan Perpaduan Budaya Eropa

  • 29 Jan 2026 12:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Harbin - Terletak di ujung utara Tiongkok, Kota Harbin bukan sekadar ibu kota Provinsi Heilongjiang. Harbin dikenal dengan julukan ‘Mutiara di bawah leher angsa’, merujuk pada bentuk wilayah provinsi yang menyerupai seekor angsa.

Mengutip situs resmi Pemerintah Kota Harbin, daya tarik Harbin terletak pada iklim ekstremnya yang menjadi destinasi favorit, hingga dijuluki ‘Kota Es’. Harbin setiap tahunnya menjadi tuan rumah Harbin International Ice and Snow Sculpture Festival, salah satu festival es dan salju terbesar di dunia.

Ribuan seniman berkumpul untuk memahat balok-balok es raksasa yang diambil langsung dari Sungai Songhua. Mereka mengubah kota ini menjadi negeri dongeng kristal yang berpendar cahaya warna-warni di malam hari.

Harbin dikenal memiliki musim dingin yang panjang dan musim panas yang singkat. Data statistik menunjukkan, suhu rata-rata tahunan kota ini berada di angka 5,6 °C.

Namun, dinamika cuaca Harbin sangat ekstrem. Pada puncaknya, suhu rata-rata bulanan bisa menyentuh angka 23,6 °C, sementara di titik terendah musim dingin rata-rata mencapai -15,8 °C.

Dengan masa bebas embun beku (frost-free period) selama 168 hari, Harbin mengandalkan curah hujan tahunan sebesar 423 mm. Mayoritas hujan jatuh pada periode Juni hingga September untuk menjaga keseimbangan alamnya.

Identitas Harbin terbentuk dari sejarah panjang yang mempertemukan budaya tradisional Tiongkok dengan pengaruh kuat dari Rusia dan Eropa. Jejak arsitektur bergaya Bizantium dan Barok memberikan suasana ‘Moskow dari Timur’.

Namun, Harbin tidak hanya bicara tentang wisata salju. Secara strategis kota ini merupakan hub transportasi penting yang menghubungkan Tiongkok dengan Rusia dan Eropa melalui jalur kereta api transkontinental.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....