Sekjen PBB Serukan Penghentian Konflik di Sudan

  • 29 Des 2025 13:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk mengupayakan kompromi dan gencatan senjata segera. Ini menyusul inisiatif perdamaian yang disampaikan Perdana Menteri Transisi Sudan pada pertemuan Dewan Keamanan PBB pekan lalu.

Hal ini disampaikan Juru Bicara Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Stephan Dujarric, pada Jumat (26/12/2025). Menurut dia, Sekjen PBB António Guterres menekankan pentingnya upaya untuk mencapai perdamaian karena konflik sudah memasuki tahun baru.

"Beliau menyerukan kepada para pihak untuk menyepakati penghentian permusuhan segera," ujarnta menegaskan. Mereka juga diminta berupaya mencapai gencatan senjata yang langgeng, menjaga persatuan dan integritas teritorial Sudan.

"Kami mendesak para aktor Sudan memprioritaskan kompromi dan mengartikulasikan visi bersama untuk transisi yang dipimpin sipil," kata Stephan.

Utusan Pribadi Sekjen PBB untuk Sudan, Ramtane Lamamra, mengatakan tetap siap memajukan konsultasi dengan kedua pihak. Terutama untuk membantu mengamankan resolusi yang inklusif dan berkelanjutan.

Lamamra menggarisbawahi berbagai insiden yang meningkatkan risiko bagi warga sipil dan para pekerja kemanusiaan. Misalnya serangan pesawat tak berawak, pengungsian, dan pembunuhan pasukan penjaga perdamaian.

Melansir UN News, misi perdamaian PBB menyelesaikan evakuasi pangkalan logistiknya di wilayah Kadugli, Kordofan Selatan. Ini mengakhiri hampir 13 tahun operasi pasukan itu di lokasi tersebut.

Ini menyusul serangan pesawat tak berawak pada 13 Desember 2025 yang menewaskan enam anggota pasukan asal Bangladesh. Jenazah mereka yang tewas telah dipulangkan, sementara delapan dari sembilan anggota yang terluka masih dirawat di Kenya.

Pangkalan Kadugli berfungsi sebagai markas besar Mekanisme Verifikasi dan Pemantauan Perbatasan Bersama (JVMM). Pangkalan ini memantau zona perbatasan demiliterisasi yang aman yang didirikan oleh Sudan dan Sudan Selatan pada 2012.

Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, para pejabat senior memperingatkan pertempuran yang semakin intensif. Ini telah menyebabkan pengungsian massal, mengganggu akses bantuan, dan memperburuk kondisi yang sudah sangat buruk bagi warga sipil.

Perang antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter telah memasuki tahun ketiga. Menurut PBB, perang ini telah merenggut ribuan nyawa warga sipil, menyebabkan jutaan orang mengungsi, dan memicu kondisi kelaparan di beberapa daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....