Legislator Soroti Ancaman Siber dan Pentingnya Ketahanan Digital

  • 02 Okt 2026 22:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Gavriel P. Novanto menyoroti ancaman siber dan kebocoran data yang terus berkembang kini. Ia menilai ketahanan digital diperlukan agar masyarakat menggunakan teknologi secara aman, kritis, dan bertanggung jawab dalam aktivitas sehari-hari.

Pernyataan itu disampaikan dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema Membangun Ketahanan Digital di Tangerang Selatan, Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan tersebut digelar BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI di Digi Studio, Ciputat Timur.

Gavriel mengatakan teknologi memudahkan komunikasi, pendidikan, transaksi ekonomi, layanan publik, dan aktivitas UMKM bagi masyarakat Indonesia secara luas. Namun, meluasnya aktivitas digital juga memperbesar ruang serangan siber yang dapat mengganggu masyarakat, pemerintahan, dan perekonomian secara langsung.

Karena itu, keamanan siber tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga berkaitan langsung dengan perlindungan masyarakat serta negara. Keamanan digital juga menentukan keberlangsungan pemerintahan, perekonomian, layanan publik, dan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi yang digunakan setiap hari.

Gavriel menyebut Indonesia memiliki sekitar 221,6 juta pengguna internet pada 2024 dengan penetrasi mencapai 79,5 persen secara nasional. Pada periode sama, tercatat sekitar 330,5 juta anomali trafik dan 26,77 juta aktivitas phishing secara nasional yang terjadi.

Pada 2026, pengguna internet diperkirakan mencapai 235,26 juta dengan penetrasi sekitar 81,7 persen dari populasi Indonesia secara nasional. APJII mencatat 13,6 persen pengguna pernah mengalami penipuan online, sedangkan 7,8 persen menghadapi pencurian data, peretasan, atau phishing.

Menurut Gavriel, ketahanan digital mencakup kemampuan mencegah, mendeteksi, merespons, memulihkan, dan belajar dari insiden secara berkelanjutan dan sistematis. Ancaman kini semakin adaptif, termasuk penggunaan kecerdasan buatan, kelalaian manusia, dan rekayasa sosial dalam serangan siber saat ini.

Plt Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi RI Darien Aldiano menjelaskan ketahanan digital memungkinkan organisasi tetap beroperasi menghadapi serangan siber. Penguatan dilakukan melalui adaptasi sistem, pemulihan proaktif, dan pembangunan budaya keamanan organisasi secara berkelanjutan serta terukur dan konsisten.

Darien menekankan penerapan Zero Trust Architecture, enkripsi, MFA, audit keamanan, pengujian berkala, dan edukasi phishing bagi pengguna digital. Organisasi juga perlu menyusun Incident Response Plan dan Disaster Recovery atau Business Continuity untuk menghadapi berbagai gangguan sistem.

Darien menegaskan ketahanan digital harus dibangun, diuji, dan diperbarui secara berkelanjutan mengikuti perkembangan ancaman siber dinamis dan kompleks. Sementara itu, Pegiat Literasi Muhammad Makmun Rasyid mengingatkan ancaman digital juga memengaruhi persepsi, sikap, dan perilaku masyarakat luas.

Ancaman tersebut muncul melalui hoaks, disinformasi, propaganda digital, manipulasi visual, hingga penggunaan deepfake yang semakin mudah tersebar luas. Ia menekankan pentingnya memeriksa konteks dan sumber informasi tanpa menjadikan jumlah like, komentar, atau share sebagai ukuran kebenaran.

Menurut Makmun, ketahanan digital mencakup kesadaran digital, infrastruktur andal, etika, literasi, privasi, serta keamanan data bagi masyarakat luas. Penguatan ketahanan digital membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat secara berkelanjutan untuk Indonesia yang tangguh.

Di tingkat individu, masyarakat dapat menerapkan konsep PAWAN untuk memperkuat kebiasaan keamanan digital sehari-hari secara sederhana dan konsisten. PAWAN mencakup Password kuat, Aktivasi 2FA atau MFA, Waspada tautan asing, Amankan Wi-Fi, dan hindari over-sharing data pribadi.

Data pribadi seperti KTP, KK, dan tiket perjalanan sebaiknya tidak dibagikan sembarangan melalui media sosial kepada publik luas. Kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara mendorong masyarakat lebih aman, kritis, dan bertanggung jawab menghadapi berbagai risiko digital masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....