DPR Dorong Ruang Digital Sehat dan Inklusif untuk Seluruh Masyarakat
- 12 Agt 2026 12:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta -Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang mendorong terciptanya ruang digital yang sehat, aman, dan inklusif sehingga dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, transformasi digital tidak cukup hanya memperluas akses teknologi, tetapi juga harus diikuti peningkatan literasi, keamanan, etika, dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Andina dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara yang digelar Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Senin (6/7/2026). Kegiatan mengangkat tema “Menciptakan Ruang Digital yang Sehat dan Inklusif” dengan menghadirkan Plt. Direktur Layanan TI Badan Usaha Yulis Widyo Marfiah serta Direktur Eksekutif Arus Survey Indonesia Ali Rif'an.
Andina mengatakan perkembangan teknologi digital telah membuka akses yang semakin luas terhadap informasi, komunikasi, pendidikan, hingga peluang ekonomi. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, perilaku tidak etis, kesenjangan akses, serta persoalan keamanan dan perlindungan pengguna.
Menurutnya, transformasi digital harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Digitalisasi tidak boleh menciptakan kelompok yang tertinggal karena keterbatasan akses, kemampuan, maupun pemahaman dalam menggunakan teknologi.
“Inklusivitas digital harus memastikan setiap masyarakat memiliki kesempatan untuk mengakses, memahami, dan memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif,” ujar Andina. Ia menegaskan ruang digital yang sehat tidak hanya ditentukan oleh tersedianya jaringan dan perangkat teknologi.
Masyarakat juga membutuhkan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak, memahami informasi, menjaga keamanan data pribadi, serta membangun perilaku komunikasi yang menghormati sesama. Andina menilai peningkatan literasi digital menjadi semakin penting seiring tingginya penggunaan media sosial dan berbagai platform digital. Kemampuan menggunakan aplikasi saja, kata dia, tidak cukup.
Pengguna perlu mampu memilah informasi, mengenali potensi risiko, menjaga privasi, serta memahami konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan di ruang digital. “Masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya," katanya.
Selain persoalan informasi, Andina menyoroti pentingnya etika dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis, tetapi harus disampaikan secara bertanggung jawab.
Ruang digital, menurutnya, tidak boleh menjadi tempat berkembangnya penghinaan, perundungan, ujaran kebencian, maupun perilaku yang merugikan orang lain. Andina juga mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya menjadi konsumen teknologi.
Teknologi harus dimanfaatkan untuk menghasilkan karya dan menciptakan nilai tambah. Ruang digital dapat digunakan untuk pendidikan, pengembangan kreativitas, kewirausahaan, promosi produk lokal, pengembangan komunitas, serta berbagai aktivitas produktif lainnya.
Dalam konteks inklusivitas, Andina mengatakan pengembangan teknologi perlu memperhatikan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam memperoleh akses maupun menggunakan layanan digital. Layanan digital perlu terus dikembangkan agar semakin mudah dipahami, mudah digunakan, dan mampu menjangkau masyarakat dengan latar belakang serta kebutuhan yang beragam.
Sementara itu, Plt. Direktur Layanan TI Badan Usaha Yulis Widyo Marfiah menekankan pentingnya pengembangan layanan teknologi informasi yang mampu mendukung masyarakat menghadapi transformasi digital. Menurutnya, infrastruktur dan layanan teknologi merupakan fondasi penting bagi masyarakat untuk terhubung dengan berbagai layanan dan sumber informasi.
Perkembangan layanan digital, lanjutnya, perlu diiringi peningkatan kualitas dan kemudahan akses agar manfaat transformasi teknologi tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah dengan infrastruktur yang sudah maju. Sementara itu, Direktur Eksekutif Arus Survey Indonesia Ali Rif'an mengatakan kehadiran ruang digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berinteraksi, membentuk opini, hingga menyampaikan aspirasi.
Perubahan tersebut, menurut Ali, menuntut masyarakat memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Teknologi harus ditempatkan sebagai sarana memperkuat komunikasi dan partisipasi publik, bukan menjadi sumber konflik akibat informasi yang tidak akurat maupun komunikasi yang tidak bertanggung jawab.
Andina menegaskan pembangunan ruang digital yang sehat dan inklusif merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, legislatif, penyelenggara layanan digital, akademisi, komunitas, pelaku industri, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem digital yang aman dan bermanfaat.
“Teknologi harus menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan informasi, pendidikan, pelayanan publik, peluang ekonomi, serta ruang partisipasi yang lebih luas,” ujar Andina. Melalui Sosialisasi Merajut Nusantara, BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI mendorong penguatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ruang digital yang sehat dan inklusif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....