DPR Ingatkan Masyarakat, Kritik di Ruang Digital Harus Berbasis Fakta
- 12 Agt 2026 12:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang menegaskan keberanian masyarakat menyampaikan pendapat di ruang digital harus disertai etika dan tanggung jawab. Kebebasan berekspresi, menurutnya, tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas.
“Berani menyampaikan pendapat itu penting dalam demokrasi, tetapi harus tetap menghormati hak dan martabat orang lain,” ujar Andina dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Berani Bicara, Tetap Beretika di Ruang Digital” yang digelar BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Rabu, 1 Juli 2026.
Andina mengatakan ruang digital kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Selain sebagai sarana memperoleh informasi dan berkomunikasi, ruang digital digunakan untuk menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, membangun jejaring, hingga berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan demokrasi.
Namun, ia mengingatkan keberanian menyampaikan kritik tidak harus diwujudkan melalui bahasa kasar, penghinaan, maupun serangan terhadap pribadi. Menurut Andina, kritik yang disampaikan di ruang digital seharusnya berbasis fakta dan diarahkan untuk mendorong perbaikan.
Sikap kritis dan kesantunan, katanya, bukan dua hal yang harus dipertentangkan. “Jangan sampai kritik justru berubah menjadi serangan pribadi. Kita tetap bisa tegas tanpa harus menghina atau merendahkan orang lain,” katanya.
Andina juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya memahami jejak digital. Setiap unggahan, komentar, foto, maupun informasi yang dibagikan berpotensi tersebar luas dan sulit dikendalikan setelah berada di internet.
Karena itu, masyarakat perlu berpikir sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu dengan mempertimbangkan kebenaran informasi, manfaat, serta dampaknya terhadap orang lain. Ia menilai literasi digital menjadi kemampuan penting di tengah derasnya arus informasi.
Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memeriksa informasi, menjaga data pribadi, memahami etika komunikasi, dan menyadari konsekuensi setiap tindakan di ruang digital. Andina mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh konten yang sengaja dibuat untuk membangkitkan emosi.
Sebelum memberikan respons, masyarakat perlu membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber, dan memahami konteksnya. “Berhenti sejenak sebelum bereaksi. Pastikan informasi yang kita terima benar, lihat sumbernya, dan pahami konteksnya,” ujarnya.
Selain persoalan informasi, Andina menekankan pentingnya menjaga privasi. Masyarakat diminta berhati-hati dalam membagikan data pribadi, identitas, foto, maupun informasi privat milik diri sendiri dan orang lain.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat informasi dapat tersebar dalam waktu sangat cepat sehingga pengendalian terhadap informasi pribadi semakin sulit dilakukan setelah masuk ke internet. Andina juga mendorong masyarakat memanfaatkan media sosial untuk kegiatan yang produktif, seperti berbagi pengetahuan, mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring, belajar, berkarya, berkolaborasi, mengembangkan usaha, serta menyampaikan informasi yang bermanfaat.
Dalam konteks partisipasi publik, ia mengatakan ruang digital dapat menjadi sarana masyarakat menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap berbagai persoalan. Namun, penyampaian kritik harus tetap konstruktif, berbasis fakta, dan menghormati keberagaman pandangan.
Ia menambahkan, aktivitas di ruang digital juga memiliki konsekuensi hukum. Karena itu, kebebasan berpendapat harus tetap memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku.
Andina menilai pembangunan ruang digital yang sehat tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, media, platform digital, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan positif.
Pada kesempatan tersebut, Staf Khusus Bidang Kepemudaan dan Startup Alfreno Kautsar Ramadhan mengatakan internet merupakan pisau bermata dua yang dapat memberikan manfaat sekaligus menghadirkan risiko apabila digunakan secara tidak tepat. Sementara itu, Pegiat Literasi Fita Syafitri menekankan pentingnya keamanan siber, berpikir kritis, etika komunikasi, dan verifikasi informasi sebagai bagian dari kemampuan dasar masyarakat dalam menghadapi ruang digital.
Melalui kegiatan tersebut, Andina mengajak masyarakat menjadi warga digital yang berani menyampaikan pendapat, tetapi tetap santun, kritis, bertanggung jawab, dan menghormati hak orang lain. “Keberanian bersuara harus berjalan bersama etika dan tanggung jawab," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....