Legislator: Pertumbuhan Ekonomi Harus Sejahterakan Anak Bangsa
- 18 Des 2025 18:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan harus menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini yang merupakan salah satu amanat dari para pendiri bangsa.
"Keseluruhan data proyeksi ekonomi yang ada saat ini diharapkan mampu menjadi pedoman bagi kita semua agar mampu memahami apa yang harus dilakukan pada tahun depan. Ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Hal itu disampaikannya saat membuka diskusi daring bertema Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 (FDD12). Menurut Lestari, bangsa Indonesia harus memiliki optimisme dengan bersama-sama terlibat aktif dalam upaya mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Rerie, sapaan akrab Lestari berpendapat, para pemangku kepentingan perlu bersama-sama melakukan refleksi untuk melihat sektor-sektor yang berpotensi tumbuh. Dan bisa dimanfaatkan sebagai salah satu faktor pendorong untuk mencapai target ekonomi yang direncanakan.
Anggota Komisi X DPR RI itu menilai, sektor padat karya perlu mendapat perhatian lebih untuk menyikapi dampak dinamika ekonomi global. Guna menekan perekonomian di dalam negeri.
Ia berharap, partisipasi aktif semua pihak, masyarakat, swasta, dan pemerintah, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan. Ini dapat mewujudkan kesejahteraan bagi setiap anak bangsa.
Dalam diskusi tersebut, Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual mengungkapkan, kondisi perekonomian secara global tahun depan masih dalam ancaman black swan event. Sehingga perlu masuk dalam mitigasi risiko pada 2026.
Menurut David, tahun depan harus tetap waspada dengan tetap mencari katalis-katalis untuk memacu pertumbuhan. Dampak bencana alam di Sumatera beberapa waktu lalu, ujar David, diperkirakan akan mempengaruhi 0,3 persen dari PDB.
David memperkirakan, dalam upaya rekonstruksi pascabencana membutuhkan dana sampai Rp70 triliun. Dan langkah ini akan membantu pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Menurut David, perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun depan sekitar 5,5 persen, salah satunya didorong oleh net ekspor sekitar 3,5 persen. Namun, ujar David, dari sisi investasi asing tahun depan tidak cukup masif. Mata uang rupiah tertekan akibat outflow investasi portofolio.
David berpendapat, sejumlah langkah stimulus yang diterapkan pemerintah harus segera diperbaiki pelaksanaannya. Ini agar mampu memberikan dampak yang lebih merata bagi masyarakat.
Sejumlah katalis yang dapat dilakukan pada 2026 untuk mendorong pertumbuhan, menurut David, antara lain penurunan BI rate, realisasi perjanjian investasi dan perdagangan untuk membuka pasar baru. Dan realisasi sejumlah program prioritas pemerintah, seperti penguatan produksi pangan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar berpendapat, dalam perspektif kebijakan pada 2026 harus fokus pada mitigasi risiko. Menurut Media, langkah mitigasi risiko harus dikedepankan agar kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam perekonomian tidak terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....