Ubah Stigma Birokrasi, LAN Ajak Lembaga Pelatihan Perkuat Branding ASN

  • 13 Agt 2026 19:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah berbagai upaya pemerintah meningkatkan profesionalisme dan kapasitas ASN, masih terdapat persepsi di masyarakat bahwa ASN identik dengan birokrasi yang lamban dan belum memberikan dampak nyata. Padahal, kenyataannya transformasi ASN terus dilakukan melalui berbagai program pengembangan kompetensi yang dilaksanakan kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah. Lembaga Pelatihan memiliki peran strategis dalam pengembangan kompetensi aparatur, menjadi ruang penting untuk mentransformasikan ASN menjadi lebih profesional, adaptif, dan kompeten. Namun, berbagai proses transformasi tersebut belum selalu terdengar di ruang publik. Kondisi tersebut menunjukkan adanya problem branding, yakni kesenjangan antara kinerja yang dilakukan ASN dengan bagaimana kinerja tersebut dipersepsikan dan diketahui oleh masyarakat. Hal ini diungkapkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Muhammad Taufiq, DEA pada Forum Eksekutif Pengembangan Kompetensi ASN, di Aula Prof. Agus Dwiyanto, Kantor LAN, Rabu (12/8).

“Selama ini komunikasi pemerintah masih sering didominasi foto podium, pejabat, foto kelompok formal, backdrop, banner, serta judul yang panjang dan birokratis. Pola tersebut perlu dilengkapi dengan konten yang lebih banyak menampilkan wajah manusia, aktivitas, problem solving, visualisasi data, before-after, video vertikal, behind the scenes, ilustrasi, dan bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat. Dengan perubahan tersebut, media sosial pemerintah tidak lagi hanya menjadi etalase kegiatan instansi, tetapi menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana ASN belajar, bekerja, menghasilkan karya, dan memberikan dampak.” tambahnya.

Muhammad Taufiq menjelaskan bahwa ke depan, komunikasi pengembangan kompetensi perlu lebih berimbang. Konten institusional tetap penting, tetapi porsinya jangan mendominasi. Lembaga Pelatihan bisa membangun formula 10 persen tentang institusi, 20 persen tentang karya-karya hebat ASN, dan 70 persen tentang dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Karena pada akhirnya, masyarakat ingin melihat manfaat, bukan sekadar aktivitas.

“Sebuah branding harus dibangun dari bukti, kita mengenal pelatihan dimulai dari Pelatihan Dasar (Latsar) sampai dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN), banyak karya pembelajaran ASN yang sebenarnya sangat baik. Karya-karya tersebut perlu kita tampilkan sehingga masyarakat dapat melihat berbagai proses pembelajaran menghasilkan perubahan dan dampak yang besar bagi masyarakat,” ujarnya

Dalam upaya memperkuat branding pengembangan konten ASN, Kepala LAN mengenalkan lima pilar utama, yakni pertama, Learn. Konten menunjukkan bagaimana proses pembelajaran memberikan pengetahuan atau keterampilan baru yang relevan bagi pekerjaan ASN. Pembelajaran dapat dikemas dalam bentuk microlearning yang singkat, mudah dipahami, namun memberikan manfaat. Kedua, Problem Solving. Konten dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi pemerintah dan bagaimana ASN menghadirkan solusi. Ketiga, Impact yaitu Konten menampilkan dampak nyata dari kinerja ASN serta perubahan yang dirasakan stakeholder atau masyarakat.

Selanjutnya pilar Keempat, People. menghadirkan wajah manusia di balik birokrasi, mulai dari ASN muda, ASN daerah, frontliner, pemimpin hingga inovator. Pendekatan ini penting untuk menghilangkan stereotip terhadap ASN melalui bukti nyata, bukan propaganda. Pilar yang terakhir adalah Future. Bagaimana membangun persepsi bahwa pengembangan kompetensi merupakan investasi untuk mempersiapkan ASN menghadapi masa depan, termasuk AI, future of work, pemerintahan digital, inovasi, data, dan citizen experience.

Melalui penguatan branding tersebut, Muhammad Taufiq mengajak seluruh lembaga pelatihan dan pengembangan kompetensi ASN untuk tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan pembelajaran, tetapi juga memastikan hasil pembelajaran dapat terlihat dan memberikan makna bagi masyarakat. Menurutnya, karya ASN yang lahir dari proses pengembangan kompetensi perlu dikomunikasikan secara lebih kreatif, humanis, dan berbasis bukti.

“Saya berharap penguatan branding ASN dapat menjadi gerakan bersama untuk mengubah persepsi publik terhadap birokrasi, dari sekadar melihat aktivitas pemerintah menjadi memahami kontribusi dan manfaat nyata yang dihasilkan ASN. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi bertransformasi menjadi karya, perubahan, dan dampak yang dirasakan masyarakat.” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, dalam laporan penyelenggaraan, Deputi Bidang Penjaminan Mutu dan Pengembangan Kapasitas dan Pembelajaran ASN, Dra. Army Winarty, M.Si menyampaikan forum ini diharapkan membangun kesamaan pemahaman sekaligus memperkuat sinergi antar lembaga pelatihan dalam mengembangkan ekosistem pembelajaran ASN yang adaptif, inovatif, dan berkualitas.

Army berharap forum ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi menghasilkan kolaborasi nyata dan inovasi pembelajaran yang mampu mempercepat transformasi pengembangan kompetensi ASN. “Kita ingin mewujudkan ASN yang semakin profesional, adaptif, berdaya saing global, dan mampu memberikan pelayanan publik yang semakin berkualitas,” pungkasnya.

Hadir sebagai narasumber dalam forum eksekutif pengembangan kompetensi ASN ini, antara lain Deputy Chairman MCorp, Taufik, S.E., M.B.A, Direktur Pembelajaran Manajerial Kepemimpinan LAN, Dr. Giri Saptoaji, S.S., M.A., Direktur Pembelajaran Karakter dan Sosial Kultural LAN, Deny Junanto, S.E., M.P.P., Ph.D. serta Widyaiswara Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kementerian Sekretariat Negara, M. Haris Pratama, S.Pd, MM.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....