Puasa Arafah, Kapan Dilaksanakan dan Bagaimana Sejarahnya?

  • 14 Jun 2024 07:08 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Tanggal 9 Dzulhijjah adalah momen istimewa dalam kalender Islam yang dianjurkan untuk melaksanakan Puasa Arafah. Tahun ini, tanggal tersebut bertepatan dengan Minggu, 16 Juni 2024, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar karena disebutkan dapat menghapus dosa selama dua tahun, yakni tahun yang telah lalu dan yang akan datang.


Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah saw. bersabda, "Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim).


Menurut Ustaz Moch. Taufiqurrahman, pelaksanaan puasa ini memiliki kaitan erat dengan sejarah Nabi Ibrahim as. dan putranya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah Swt. yang memerintahkannya untuk menyembelih putranya sebagai bentuk pengabdian. Dalam perenungannya, Nabi Ibrahim menguatkan keyakinannya bahwa itu adalah perintah dari Allah, bukan bisikan setan. Puasa pada hari Tarwiyah, sehari sebelum Arafah, dihubungkan dengan masa perenungan tersebut.


Pada tanggal 9 Dzulhijjah, para jamaah haji di Makkah menjalani wukuf di Padang Arafah, yang merupakan inti dari ibadah haji. Wukuf ini adalah momen kontemplasi dan muhasabah, di mana jamaah merenungkan perilaku mereka dan memohon ampunan kepada Allah. Wukuf di Arafah juga dianggap sebagai miniatur Padang Mahsyar, tempat umat manusia akan berkumpul setelah hari kiamat.


Lafal Niat dan Pelaksanaan Puasa Arafah


Bagi umat Islam yang berpuasa Arafah, penting untuk melafalkan niat puasa. Berikut adalah lafal niat puasa Arafah di malam hari:


نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ


Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah Swt."


Bagi yang terlupa membaca niat pada malam hari, mereka masih dapat melafalkannya di siang hari sebelum tergelincirnya matahari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berikut adalah lafal niat puasa sunnah Arafah di siang hari:


نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ


Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah Swt."


Hikmah dan Pelajaran dari Puasa Arafah


Dalam program siaran radio kajian subuh 'Mutiara Pagi' di 91,2FM Pro1 RRI Jakarta pada Jumat (14/6/2024) Ustaz Taufiqurrahman menjelaskan hikmah dan pelajaran dari puasa Arafah. Menurutnya, selain manfaat kesehatan, baik fisik maupun mental, puasa ini juga memberikan pelajaran spiritual. Berpuasa pada hari-hari ini mengingatkan kita pada ketaatan Nabi Ibrahim as. dan ketulusan dalam menjalankan perintah Allah. Ini juga menjadi momen untuk merenung dan memperbaiki diri, dengan harapan mendapat ampunan Allah Swt.


Ustaz Taufiqurrahman juga menekankan pentingnya menjaga niat dan kualitas puasa. Melaksanakan puasa dengan niat yang baik dan menghindari perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa sangat dianjurkan. "Puasa Arafah dan Tarwiyah bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang peningkatan spiritual dan kedekatan kepada Allah Swt,"ujarnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....