PPIH Sebut Tasyakuran Sepulang Haji Tradisi Saling Memaafkan

  • 20 Jun 2026 00:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PPIH menjelaskan bahwa tradisi tasyakuran haji bukan merupakan praktik bidah
  • Acara tasyakuran merupakan kearifan lokal untuk saling memaafkan dan bersyukur
  • Kegiatan ini juga dapat memotivasi masyarakat sekitar untuk menunaikan ibadah haji

RRI.CO.ID, Madinah - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji meluruskan pemahaman tentang tradisi tasyakuran setelah pulang berhaji. Kegiatan tersebut dinilai sebagai bentuk rasa syukur dan saling memaafkan.

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah PPIH Daker Bandara Anis Dyah Puspita menyampaikan hal itu. Menurutnya acara tasyakuran bukan merupakan praktik bidah atau khurafat.

Tradisi ini justru menjadi implementasi dari seruan Islam kepada umat. Penjelasan tersebut disampaikan saat melepas jemaah haji di Bandara Pangeran Mohammad bin Abdulaziz Madinah.

Budaya ini merupakan kearifan lokal yang tumbuh subur di masyarakat Nusantara. "Ini merupakan kebudayaan atau kearifan lokal bangsa Indonesia," katanya.

Dahulu jemaah haji harus menggunakan kapal laut selama berbulan-bulan. Risiko perjalanan yang tinggi melahirkan tradisi pamitan dan tasyakuran.

Tradisi tersebut terus dipertahankan demi menjaga hubungan baik sesama manusia.

Anis menyebut salah satu syarat haji mabrur adalah selesainya urusan manusia.

Kesalahan antar sesama harus dimaafkan terlebih dahulu sebelum kembali pulang. "Muamalah yang kurang bagus harus dimaafkan dulu oleh manusia," ucapnya.

Acara tasyakuran juga diyakini memberikan efek motivasi bagi lingkungan sekitar. Tetangga yang hadir dapat terinspirasi untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Masyarakat menjadi lebih bersemangat setelah mendengarkan cerita dari tanah suci. Kegiatan ini memicu minat warga yang awalnya merasa belum siap berhaji. Harapannya kebersihan hati dan pikiran jemaah tetap terjaga setelah tasyakuran. (MCH)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....