Keluhan Jantung dan Pernapasan Meningkat saat Fase Pemulangan Jemaah Haji

  • 04 Jun 2026 09:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Serangan jantung dan sesak napas mewarnai kepulangan jemaah haji ke Tanah Air melalui Bandara Intermasional Soekarno-Hatta
  • Serangan jantung dan sesak napas yang paling sering ditemukan pada jemaah haji 2026 yang baru tiba

RRI.CO.ID, Tangerang - Serangan jantung dan sesak napas mewarnai kepulangan jemaah haji ke Tanah Air melalui Bandara Intermasional Soekarno-Hatta. Lantaran, dua kasus tersebut yang paling sering ditemukan pada jemaah haji 2026 yang baru tiba.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, kondisi kegawatdaruratan medis menjadi perhatian utama dalam proses kepulangan jemaah haji di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. "Serangan jantung dan sesak napas merupakan dua kasus yang paling sering ditemukan pada jemaah haji 2026 yang baru tiba," ujarnya, Rabu 3 Juni 2026.

Naning menjelaskan tim medis di lapangan kerap menghadapi situasi kritis, mulai dari penanganan di udara hingga sesaat setelah jemaah mendarat. "Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung, atau penyakit kronis lainnya," kata Naning.

Menurutnya, prosedur standar operasional (SOP) yang diterapkan adalah memberikan pertolongan pertama secara cepat di lokasi. Kemudian segera merujuk pasien ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan penanganan lanjutan yang lebih intensif

Guna melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji, BBKK Soekarno-Hatta telah menyiagakan tim kesehatan lengkap yang beroperasi selama 24 jam penuh. Tim ini terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan keahlian untuk memastikan seluruh aspek kesehatan jemaah terpantau.

"Ada dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog dan entomolog. Kemudian sanitarian, perawat, sopir ambulans, hingga tenaga humas dan pendukung lainnya," ucapnya.

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Oktavianus memberikan apresiasi atas kolaborasi berbagai instansi dalam mengawal kesehatan jemaah haji tahun ini. Ia menegaskan penurunan kasus kesehatan yang signifikan merupakan hasil dari kerja sama lintas sektor yang solid.

"Dukungan datang dari mana-mana. Ada teman-teman dari AirNav yang mengatur lalu lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura yang menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus," kata Benjamin.

Ia menambahkan ketersediaan ambulans yang selalu dalam posisi standby menjadi kunci dalam merespons kondisi darurat. Sinergi ini, menurut Benjamin, terbukti efektif memberikan dampak positif pada keselamatan jemaah.

"Ini membuktikan sinergi lintas sektor. Tentu saja berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....