Musyrif Diny Beberkan Tiga Skema Mabit Muzdalifah Jemaah

  • 23 Mei 2026 14:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mabit (bermalam) di Muzdalifah menjadi bagian wajib dalam rangkaian ibadah haji jemaah.
  • Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI KH Cholil Nafis menjelaskan dasar syariat mabit Muzdalifah.
  • Batas utama mabit ialah melewati waktu tengah malam di Muzdalifah.

RRI.CO.ID, Makkah - Mabit (bermalam) di Muzdalifah menjadi bagian wajib dalam rangkaian ibadah haji jemaah. Kepadatan jemaah membuat skema murur kini banyak diterapkan selama puncak haji.

Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI KH Cholil Nafis menjelaskan dasar syariat mabit Muzdalifah. Ia merujuk Surah Al Baqarah ayat 198 mengenai zikir di Masy’aril Haram.

Menurutnya, batas utama mabit ialah melewati waktu tengah malam di Muzdalifah. “Disebut dengan mabit kalau dia melewati nisful lail atau tengah malam,” ujar Cholil di Makkah, Arab Saudi, Jumat, 22 Mei 2026.

Cholil menjelaskan, skema pertama berupa mabit biasa sejak selepas Maghrib hingga melewati tengah malam. Jemaah dapat berzikir, membaca Al-Qur’an, dan menyiapkan batu untuk lempar jumrah.

Setelah melewati tengah malam, jemaah diberangkatkan menuju Mina melanjutkan prosesi ibadah haji. Skema ini menjadi pola mabit yang umum dilakukan jemaah setiap musim haji.

Skema kedua ialah mabit murur dengan jemaah tetap berada di dalam bus. Bus berhenti sejenak setelah tengah malam sebelum kembali bergerak menuju Mina.

Ia memastikan, murur tetap sah selama dilakukan melewati waktu tengah malam. “Di sana sudah niat untuk mabit tanpa turun dari bus,” kata Cholil.

Skema ketiga ialah murur rukhshah bagi jemaah dengan uzur syar’i tertentu. Kelompok tersebut meliputi jemaah sakit, lansia, dan mereka yang kesulitan menjalankan mabit.

Cholil menyebut jemaah dengan uzur syar’i tidak diwajibkan membayar dam selama menjalankan rukhshah. Kebijakan itu diharapkan mengurangi kelelahan dan risiko kematian saat puncak ibadah haji.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....