Batasi Paparan Matahari, Jemaah Haji Diimbau Hindari Jam Terik

  • 17 Apr 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Jemaah diimbau menghindari aktivitas luar ruangan pukul 09.00–15.00, dengan durasi paparan maksimal 1–2 jam untuk mencegah dampak panas ekstrem.
  • Tawaf dan lempar jumrah menjadi aktivitas paling rentan, sehingga disarankan dilakukan di luar jam terik serta menggunakan perlindungan diri lengkap.
  • Suhu di atas 45 derajat Celcius dapat menyebabkan dehidrasi, heat stroke, hingga memperburuk penyakit kronis seperti jantung, diabetes, dan ginjal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jemaah haji diimbau membatasi paparan sinar matahari langsung selama berada di Arab Saudi. Langkah ini penting untuk mencegah risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas ekstrem.

Dokter Kesehatan Jemaah Haji Kloter 2024, dr. Ngabila Salama mengatakan, paparan sinar matahari sebaiknya dihindari pada waktu tertentu. Utamanya pada pukul 09.00 hingga 15.00 waktu setempat.

"Paparan langsung idealnya tidak lebih dari satu hingga dua jam. Setelah itu, jemaah harus segera mencari tempat teduh untuk beristirahat," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat, 17 April 2026.

Ia menjelaskan, sejumlah rangkaian ibadah haji seperti tawaf dan lempar jumrah memiliki risiko tinggi terpapar panas. Oleh karena itu, jemaah disarankan memilih waktu di luar jam terik untuk beraktivitas.

"Kalau bisa, hindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam panas ekstrem. Bahkan pada pengalaman sebelumnya, lempar jumrah tidak dianjurkan pada pukul 10.00 hingga 17.00 karena suhu sangat tinggi," ucapnya.

Selain membatasi paparan, ia menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri. Jemaah dianjurkan menggunakan payung, kacamata hitam, masker medis, serta alas kaki yang nyaman untuk melindungi tubuh dari panas.

Ia juga menyarankan penggunaan pakaian berwarna cerah, terutama putih, karena dapat memantulkan panas dibandingkan warna gelap. "Perlindungan dari ujung kepala hingga kaki sangat penting untuk mencegah tubuh terpapar panas berlebih," ujarnya, menegaskan.

Di sisi lain, persiapan fisik sebelum keberangkatan juga perlu dilakukan sejak di tanah air. Kebiasaan sederhana seperti rutin minum air, menjaga hidrasi, serta membiasakan diri dengan aktivitas di luar ruangan.

"Yang paling penting adalah menjaga asupan cairan, tidak menunggu haus. Kemudian mulai menerapkan kebiasaan sehat sebelum berangkat," ujarnya.

Dengan disiplin mengatur waktu dan mempersiapkan kondisi fisik sejak dini, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah haji dengan aman. Sekaligus terhindar dari risiko akibat panas ekstrem.

Sementara itu, Pakar Kesehatan Griffith University, Dicky Budiman mengingatkan bahaya suhu panas ekstrem. Suhunya bahkan bisa melebih 45 derajat celcius.

"Dalam konteks perubahan iklim seperti El Nino, risiko panas ekstrem semakin relevan. Suhu di Arab Saudi bisa melebihi 45 derajat celsius," ujarnya.

Ia menjelaskan kondisi tersebut bisa berakibat fatal bagi jemaah haji. Selain peningkatan risiko dehidrasi dan penyakit panas atau heat illness seperti heat exhaustion dan heat stroke.

Lebih lanjut, panas ekstrem dapat memperburuk penyakit kronis seperti jantung, diabetes, dan gangguan ginjal. "Bisa berakibat fatal jika terlambat ditangani, kapasitas fisik juga menurun dalam kondisi panas ekstrem," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....