Perkuat Ekosistem Logistik Haji 2026, Indonesia Ekspor Bumbu Pasta dan Makanan RTE

  • 03 Apr 2026 01:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia mengekspor bumbu pasta dan makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) untuk mendukung ekosistem logistik haji 2026
  • Ekspor bumbu pasta dan Makanan RTE dapat menahan pelebaran defisit neraca jasa nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi
  • Ekspor bumbu pasta dan makanan siap saji ini merupakan ekspor pertama yang besarnya mencapai 100 ton. Pengiriman bertahap mulai 2 April 2026 hingga 6 April 2026

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia mengekspor bumbu pasta dan makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) untuk mendukung ekosistem logistik haji 2026. Ekspor ini merupakan sinergi PT Garuda Indonesia dan PT Pos Indonesia sehingga biaya logistik lebih efisien dan kompetitif.

"Sinergi Kementerian/Lembaga dan BUMN dalam pengiriman logistik haji yang dimulai tahun 2026 ini baru 'step' awal. Ke depan akan lebih dioptimalkan untuk beberapa potensi kolaborasi lainnya," kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan dalam acara Pelepasan Ekspor di Tangerang, Kamis 2 April 2026.

Potensi kolaborasi yang lain, lanjut Ferry, meliputi pengiriman oleh-oleh haji dan umrah. Pengiriman makanan untuk kebutuhan jamaah umrah sepanjang tahun juga termasuk di dalamnya.

Langkah ini dinilai akan berdampak langsung pada perekonomi dan penerimaan negara dari ekspor. " Sehingga dapat menahan pelebaran defisit neraca jasa nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Ferry.

Ekspor bumbu pasta dan makanan siap saji ini merupakan ekspor pertama yang besarnya mencapai 100 ton. Pengiriman bertahap mulai 2 April 2026 hingga 6 April 2026.

"Tahun berikutnya sebanyak 130 ton sedang dijadwalkan dalam rentang waktu 17 hingga 29 April 2026," ujar Ferry. Data Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit neraca jasa tahun 2025 mencapai USD19,8 miliar.

Dari jumlah itu, jasa transportasi menjadi kontributor terbesarnya. Sebagian defisit jasa transportasi bersumber dari pengeluaran jamaah yang memanfaatkan berbagai layanan logistik dan konsumsi dari penyedia asing.

"Semakin besar porsi layanan logistik, konsumsi, dan transportasi haji yang dapat dipenuhi penyedia nasional, semakin besar pula potensi penghematan devisanya," ucap Ferry. Hal serupa disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Jaenal Effendi.

"Terwujudnya ekosistem haji dan umrah manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh jamaah. Masyarakat Indonesia lainnya juga akan menikmati multiplier effect dalam rantai nilai ekonomi yang terintegrasi," kata Jaenal.

Penguatan ekosistem logistik haji melalui sinergi BUMN, Kementerian/Lembaga dan stakeholder lainnya, juga akan membantu jemaah umrah. Berbagai kebutuhan, baik layanan katering, transportasi, perdagangan, dan layanan pendukung lainnya dapat dimanfaatkan mereka.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan haji bukan sekadar ritualnya saja. Di dalamnya juga mencakup bagaimana pelaksanaan ibadah haji dan umrah bisa memberikan dampak pada ekonomi nasional.

“Kami menindaklanjuti pertemuan antara Pak Menko dengan Pak Wamen Haji agar kita bisa sama-sama memperkuat ekosistem haji. Sehingga bisa lebih memberikan nilai tambah terhadap perekonomian nasional," ujar Haryo.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....