Mengenal Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia.
- 02 Jun 2024 15:49 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Tan Malaka adalah figur yang mendalam dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Pemikirannya tentang kemerdekaan, sosialisme, dan revolusi memberikan kontribusi besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 53, yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963, Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Dikutip dari berbagai sumber,Tan Malaka lahir dengan nama Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat. Nama aslinya adalah Ibrahim, tetapi ia dikenal baik sebagai seorang anak dan orang dewasa sebagai Tan Malaka. Sebuah nama kehormatan dan semi-bangsawan, ia mewarisinya dari ibunya. Tan Malaka mendapat kesempatan untuk masuk ke Sekolah Guru Pribumi satu-satunya di Sumatra yaitu Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers di Bukittinggi hingga lulus pada tahun 1913.
Tan Malaka melanjutkan pendidikan ke Belanda di Rijkskweekschool di Haarlem. ia mendapatkan pendidikan dan mulai berkenalan dengan ide-ide Marxisme dan komunisme yang kemudian sangat mempengaruhi pandangan politiknya. Setelah kembali ke Indonesia, Tan Malaka aktif dalam gerakan kemerdekaan. Ia percaya pada perjuangan kelas dan pentingnya revolusi untuk mencapai kemerdekaan.
Dalam bukunya "Naar de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis pada tahun 1925, Tan Malaka dengan jelas menyatakan visinya tentang Indonesia sebagai sebuah republik yang merdeka dari penjajahan Belanda. Buku ini merupakan salah satu yang pertama mengusulkan bentuk pemerintahan republik untuk Indonesia, berbeda dengan bentuk monarki yang umum pada masa itu.
Tan Malaka aktif dalam berbagai kegiatan revolusioner dan organisasi pergerakan kemerdekaan, baik di dalam maupun luar negeri. Ia terlibat dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kemudian mendirikan Partai Murba. Setelah dituduh melawan kebijakan pemerintah Indonesia yang baru, beliau dipenjara pada tahun 1946. Dua tahun setelahnya atau setelah pemberontakan PKI Madiun beliau dibebaskan.
Tan Malaka merintis pembentukan Pantai Murba tetapi tidak berhasil menarik banyak pengikut. Setelah itu beliau melarikan diri dari Yogyakarta ke pedesaan Jawa Timur. Pada tahun 1949, beliau ditangkap dan dieksekusi tembak di Kediri. Selama puluhan tahun makamnya tidak diketahui. Peneliti Belanda, Herry Poeze menemukannya di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.Pada 16 Februari 2017. Keluarga menjemput dan memindahkan jasad Tan Malaka ke tanah kelahirannya di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat.
Tan Malaka mendapat julukan "Bapak Republik Indonesia" karena gagasan dan kontribusinya yang visioner mengenai pembentukan Republik Indonesia, jauh sebelum kemerdekaan tercapai. Setiap tahun di tanggal 2 Juni, Indonesia memperingati Hari Lahir Tan Malaka. Meskipun hidupnya penuh dengan konflik dan kesulitan, warisan intelektual dan politiknya terus mempengaruhi dan menginspirasi perjuangan keadilan sosial dan kemerdekaan di Indonesia. (Oleh : I Gusti Agung Istri Agung Krisnawati).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....