Tanjakan Emen: Mitos, Arwah Penunggu, atau Faktor Manusia?

  • 13 Mei 2024 12:12 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Kecelakaan di jalur antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Jawa Barat, tepatnya dekat lokasi wisata Ciater yang terkenal dengan nama Tanjakan Emen menghidupkan kembali legenda atau mitos kawasan itu. Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas, termasuk seorang pengendara sepeda motor.

Sejumlah media menulis tentang Tanjakan Emen yang dikenal sebagai jalur angker dan maut. Masyarakat setempat bahkan menyebutnya sebagai "jalur tengkorak". Catatan Kompas.id, Sabtu (11/5/2024) menunjukkan, selama 12 tahun terakhir, total korban meninggal dunia akibat kecelakaan di kawasan tersebut mencapai 52 orang.

Mitos ini berkembang dan memiliki banyak versi di kalangan masyarakat, kata Kompas.id dalam laporannya dan menyebut mitos tersebut dikaitkan dengan kejadian kecelakaan di lokasi itu pada 1960-an. Korban Sosok Emen disebut merupakan salah satu korban meninggal akibat kecelakaan di lokasi tersebut.

Beberapa orang percaya, Emen adalah pengangkut sayur, sementara sebagian lainnya meyakini bahwa Emen merupakan kernet angkutan umum Subang-Bandung. Namun, ketika ditanya mengenai keterkaitan antara mitos ini dengan kecelakaan yang sering terjadi di sini, Adi Sarjito Kolopaking, instruktur pengemudi yang aman dari lembaga Defensive Indonesia, mengatakan kecelakaan tak ada urusannya dengan mitos atau tahayul.

"Saya tidak mau menyebut itu sebagai mitos atau tahayul. Kenapa banyak kecelakaan ya memang kalau tanjakan terjal atau turunan yang tajam kalau kendaraannya tidak layak jalan gitu ya itu sebetulnya kecelakaan resiko kecelakaannya pasti lebih besar gitu," ujar Adi Sarjito.

Pada dasarnya, Adi Sarjito menjelaskan bahwa banyak kecelakaan di Tanjakan Emen disebabkan oleh faktor manusia dan kondisi kendaraan. Salah satu faktor yang sering muncul adalah kurangnya perawatan kendaraan, terutama pada rem. "Jadi pencegahannya itu lebih penting sebetulnya karena untuk mencegah lebih mudah ketimbang sudah sampai di titik itu," ujarnya.

Selain itu, faktor lain yang sering menjadi penyebab kecelakaan adalah kurangnya kewaspadaan pengemudi. Terlebih lagi, kejadian berulang di suatu tempat dapat membuat pengemudi menjadi kurang waspada.

"Tergantung dari pengalaman pengemudinya. Jadi kalau semakin sering dia melewati daerah itu ya dia juga akan semakin percaya diri bahwa saya sanggup melewatinya. Yang berbahaya adanya kekuranganwaspadaan terhadap situasi jalan menganggap remeh gitu jadi memang enggak ada hubungan mitos dengan kecelakaan," ujar Adi saat diwawancara presenter 91,2FM Pro1 RRI Jakarta Bindar Umar pada Senin (13/5/2024).

Dari wawancara dengan Adi Sarjito, terungkap bahwa perawatan kendaraan merupakan hal yang krusial dalam mencegah kecelakaan, terutama pada kendaraan besar seperti bus. Kendaraan yang tidak layak jalan atau kurang perawatan dapat meningkatkan risiko kecelakaan secara signifikan.

“Karenanya, pengawasan pemerintah terhadap kondisi armada transportasi, termasuk kendaraan umum seperti bus menurutnya perlu diperketat,” ujarnya.

Sebelumnya, diduga akibat rem blong, sebuah bus pariwisata yang mengangkut rombongan pelajar SMK asal Depok, Jawa Barat mengalami kecelakaan di jalan turunan Ciater, Subang, Sabtu (11/5/2024) sekitar pukul 18:45 WIB. Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas, termasuk seorang pengendara sepeda motor. Sebanyak 32 orang korban luka akibat kecelakaan bus karyawisata SMK Lingga Kencana Depok, dibawa dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Subang ke beberapa rumah sakit di Kota Depok, Jawa Barat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....