Warga Tangerang Ambil Risiko Kesehatan akibat Krisis Air
- 20 Sep 2026 02:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Warga Tangerang mengonsumsi air keruh dari Sungai Cimanceuri karena krisis kemarau selama lima bulan yang parah.
- Air sungai yang digunakan berwarna hijau, keruh, dan berbau, namun warga terpaksa menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari dengan risiko kesehatan.
- Warga melakukan cara sederhana mengendapkan air selama tiga hari agar menjadi lebih jernih sebelum dimasak dan dikonsumsi.
Krisis Air Bersih Kian 'Menghatui' Warga
WARGA Tangerang Provinsi Banten rela mengambil risiko kesehatan, karena mengonsumsi air keruh berwarna hijau dan berbau untuk kebutuhan sehari-hari. Lantaran krisis akibat kemarau selama lima bulan melanda wilayah tersebut.
Salah seorang warga setempat, Reri mengatakan Ia bersama warga lainnya menyadari bahwa kondisi air Sungai Cimanceuri yang keruh, berbau dan berwarna hijau berisiko bagi kesehatan. "Airnya kotor dan bau, jadi kita endapkan dulu selama tiga hari sampai bening, setelah itu baru dimasak," ujarnya, Sabtu 19 September 2026.
Reri menyadari penggunaan air sungai untuk mandi juga menimbulkan keluhan pada kulit. Bahkan, sejumlah warga telah mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air tersebut.
"Gatal-gatal itu sudah pasti, namanya juga air begini. Tapi mau gimana lagi ya harus kita penuhi untuk kebutuhan sehari-hari," ucapnya.
Reri mengaku dirinya bersama warga lainnya terpaksa memanfaatkan air Sungai Cimanceuri karena tidak memiliki sumber air bersih lain. Alhasil, air sungai tersebut tidak hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, tetapi juga untuk memasak dan minum.
"Sudah lima bulan kami kekeringan. Warga terpaksa menggunakan air sungai karena air sumur sudah enggak ada, bantuan dari pemerintah juga enggak ada," ucapnya.
Reri berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang segera menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah mereka. Pasalnya, bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama musim kemarau.
Salah seorang warga Tangerang lainnya, Bambang mengatakan kualitas air bersih yang dipasok dari pengolahan air minum pemerintah daerah belakangan dinilai kurang baik. Menurutnya, air yang diterima warga berwarna kuning dan keruh.
Sementara itu, air sumur di sekitar lokasi juga dinilai kurang layak digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci. "PDAM airnya kurang bagus, agak kuning, agak bau lagi, tapi ada keuntungannya orang-orang sekitar sini pada mancing, ngejaring. Itu berkahnya air Cisadane kering," kata Bambang.
Kepala UPTD Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian-Cisadane, Didik Purwanto membenarkan bila debit air Sungai Cisadane yang mengalir menuju Bendung Pasar Baru atau Pintu Air 10, Kota Tangerang, terus menurun ditengah musim kemarau. Kondisi tersebut membuat seluruh pintu air di bendung ditutup untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan irigasi dan penggunaan lainnya.
Didik menyatakan tren penurunan debit masih berlangsung. Tinggi muka air di kawasan Pintu Air 10 sebelumnya tercatat sekitar 11,55 meter, sementara kondisi normal berada di kisaran 12,40 meter.
Penurunan tersebut terjadi setelah pasokan air dari wilayah hulu Bogor berada dibawah kondisi normal. Meski mengalami penurunan, ketersediaan air masih dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dari saluran yang tersedia.
Namun, pengelola mulai mengantisipasi kemungkinan penurunan lebih lanjut karena kebutuhan air di wilayah hilir tetap harus dipenuhi. Untuk menjaga ketersediaan air, pengelola melakukan pengaturan elevasi, terutama untuk kebutuhan irigasi.
Langkah tersebut dilakukan agar volume air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pengguna. Bendung Pintu Air 10 di Kota Tangerang juga telah ditutup total selama hampir tiga bulan sebagai bagian dari pengaturan aliran.
Petugas sempat membuka pintu bendung beberapa kali untuk menangani sampah atau material yang menghambat aliran air.
Pengelola terus memantau kondisi Sungai Cisadane sekaligus berkoordinasi dengan perusahaan daerah air minum atau PDAM terkait ketersediaan air dan kondisi bendung.
Koordinasi tersebut menjadi langkah antisipasi apabila debit sungai kembali turun hingga memasuki kondisi kritis. Di tengah penurunan debit, sejumlah bagian sungai mulai memperlihatkan permukaan tanah dan bebatuan akibat berkurangnya volume air.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak langsung dari berkurangnya volume air yang harus dibagi untuk berbagai kebutuhan. Pihak UPT DAS Cidurian-Cisadane mengimbau masyarakat dan seluruh pengguna air agar menggunakan air seefisien mungkin selama musim kemarau.
Penghematan diperlukan untuk menjaga cadangan yang tersedia sekaligus memastikan kebutuhan di wilayah hilir tetap dapat terpenuhi. Pengaturan aliran dan pemantauan debit akan terus dilakukan selama kondisi kering masih berlangsung.
"Dengan koordinasi bersama pengelola air dan masyarakat, penggunaan sumber daya Cisadane diharapkan tetap terkendali hingga kondisi debit kembali membaik. Semoga saja musim kemarau cepat berlalu," ucapnya.
BPBD Setempat Klaim Rutin Salurkan Air Bersih
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Mahdiar menuturkan krisis air bersih semakin 'menghatui' warga. Hal tersebut akibat kondisi cuaca dengan musim kemarau yang semakin panjang memengaruhi ketersediaan air.
Maka, Mahdiar menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi meluasnya krisis air bersih akibat kondisi cuaca yang memengaruhi ketersediaan air. Salah satu langkah yang disiapkan adalah menyediakan toren atau tempat penampungan air yang dipusatkan disetiap kelurahan.
Penempatan penampungan air di tingkat kelurahan diharapkan dapat memperpendek jarak distribusi apabila masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. BPBD juga terus membuka laporan dari masyarakat untuk mengetahui wilayah yang mengalami kekurangan air.
Mahdiar mengatakan potensi kekeringan perlu diantisipasi di seluruh wilayah Kota Tangerang. Hal itu dilakukan meski berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tidak semua wilayah masuk kategori rawan kekeringan.
“Intinya memang mungkin air-air permukaan sekarang sudah mulai agak sulit untuk didapatkan. Kondisi cuaca sangat memengaruhi kondisi air pada saat ini,” ujar Mahdiar.
Menurutnya, setiap laporan kekurangan air dari masyarakat akan ditindaklanjuti dengan asesmen untuk memastikan penyebab dan kebutuhan penanganannya. Ia menyontohkan laporan kekurangan air diwilayah Benda.
BPBD langsung berkoordinasi dengan Perumda Tirta Benteng untuk mengecek jaringan air dilokasi tersebut. "Sementara Kecamatan Pinang sebenarnya tidak termasuk wilayah yang diperkirakan memiliki potensi kekeringan berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG," ucapnya.
Namun, kondisi dilapangan tetap harus menjadi perhatian karena ketersediaan air dapat dipengaruhi berbagai faktor. Saat melakukan pemantauan, BPBD bahkan menemukan warga yang baru melakukan pengeboran hingga lebih dari 20 meter untuk mendapatkan sumber air.
"Untuk mengantisipasi apabila krisis air bersih meluas, BPBD Kota Tangerang mulai membahas penyiapan titik-titik penampungan air. Toren air tersebut nantinya dapat dipusatkan di tingkat kelurahan sehingga distribusi air kepada warga tidak sepenuhnya bergantung pada mobil tangki yang harus keluar-masuk kawasan permukiman," kata dia.
Penata Layanan Operasional Danton pada BPBD Kota Tangsel, Dian Wiryawan menyatakan pihaknya mencatat terdapat 28 titik yang mengalami kekeringan. Sebelumnya terdapat 25 titik kekeringan yang tercatat sejak 8 Juli hingga 10 September 2026.
Namun, dalam beberapa hari terakhir bertambah tiga titik baru. “Awalnya ada 25 titik yang mengalami kekeringan. Saat ini bertambah tiga titik sehingga menjadi 28 titik,” ujarnya.
Dian menambahkan, tiga titik baru tersebut berada di RT 006/004, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, dengan 30 kepala keluarga (KK) atau 120 jiwa terdampak. Kemudian RT 004/001, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu, dengan 35 KK atau 135 jiwa terdampak, serta RT 002/004, Kelurahan Babakan, dengan 25 KK atau 70 jiwa terdampak.
Sementara itu, 25 titik sebelumnya tersebar di Kelurahan Keranggan, Kademangan dan Muncul di Kecamatan Setu, serta Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 titik berada di Kelurahan Keranggan, yakni RT 002/001, RT 004/002, RT 001/001, RT 013/005, RT 003/001, RT 006/002, RT 005/002, RT 012/005, RT 009/005, RT 009/004, RT 011/005, RT 010/005, RT 014/003, RT 008/003, RT 010/004, dan RT 007/003.
Kemudian, tujuh titik berada di Kelurahan Kademangan, meliputi UPTD SDN 02 Kademangan, RT 004/002, RT 005/002, RT 006/002, RT 006/003, RT 005/006, dan RT 003/003. “Dua titik lainnya berada di Kelurahan Muncul, yakni RT 001/001 dan RT 004/002,” kata dia.
Dian menjelaskan mayoritas titik kekeringan berada di wilayah Kecamatan Setu. Secara keseluruhan, kondisi tersebut berdampak terhadap 654 KK atau sebanyak 2.791 jiwa.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik mengatakan pihaknya rutin menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan. Ia mengimbau perangkat desa hingga RT diwilayah terdampak untuk segera melapor kepada BPBD jika ada warga yang membutuhkan bantuan air bersih.
"Ini sudah bukan rencana lagi, setiap hari kami dari BPBD, PDAM, PMI dan lain-lain, setiap hari mengirim air bersih. Untuk Kades atau Lurah agar terus memonitor wilayahnya apabila ada yang membutuhkan air bersih tinggal hubungi Pusdalops BPBD Kabupaten Tangerang dengan Call Center 112," ujar Taufik.
Senada dilayangkan Penata Layanan Operasional Danton pada BPBD Kota Tangsel Dian Wiryawan. Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Dia memgaku, BPBD Tangsel terus melakukan pendistribusian air bersih. Hingga saat ini, total air bersih yang telah disalurkan mencapai 1.193.600 liter.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....