Piala Dunia Gerakkan Ekonomi Rakyat hingga Mimpi Anak Bangsa
- 21 Jul 2026 19:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Spanyol berhasil memenangkan Piala Dunia FIFA 2026 dengan mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 pada final yang digelar Senin 20 Juli 2026.
- Kemenangan ini merupakan gelar Piala Dunia kedua bagi Spanyol, sebelumnya mereka menjadi juara pada tahun 2010.
- Argentina telah mengumpulkan tiga gelar juara Piala Dunia yakni pada tahun 1978, 1986 dan 2026, meskipun gagal menjadi juara di edisi 2026.
Spanyol merupakan salah satu raksasa sepak bola dunia yang telah mentorehkan berbagai prestasi. Khusus Piala Dunia 2026, Spanyol telah mengkoleksi tiga gelar.
Pengamat olahraga, Gigih Windar Pratama mengatakan keberhasilan Spanyol ‘berkat’ pembinaan yang telah dibangun sejak dini oleh pemerintah setempat. Spanyol konsiten dalam pembinaan melalui akademik dengan melahirkan banyak regenerasi pemain yang berkualitas.
“Pelajaran utamanya cukup klise, yakni keberhasilan sepak bola modern tidak lagi hanya bergantung pada pemain bintang, melainkan pada sistem pembinaan berkelanjutan. Spanyol menunjukkan hasil dari investasi jangka panjang pada akademi, filosofi bermain yang konsisten, regenerasi pemain, dan kualitas pelatih,” kata Gigih, yang merupakan wartawan olahraga senior.
Gigih mengatakan Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan bahwa negara-negara nontradisional mampu memberi kejutan jika memiliki pembinaan yang baik. Negara yang memberikan kejutan juga sebenarnya juga merupakan hasil proses panjang dari pembinaan.
“Konsistensi juga jadi hal menonjol di Piala Dunia kali ini, terbukti semifinalis adalah tim peringkat 1-4,” ujarnya. Ia berharap, Indonesia dapat melakukan pembinaan secara konsisten agar bisa tampil di panggung Piala Dunia.
Ia menyebut berbagai tantangan bagi sepak bola Indonesia, seperti pembinaan usia muda yang belum merata. Selain itu, kompetisi yang belum sepenuhnya stabil, keterbatasan infrastruktur di banyak daerah.
Kualitas pelatih yang perlu terus ditingkatkan, serta kesinambungan program yang sering berubah. Selain itu, jumlah penduduk besar tidak menjadi jaminan menghasilkan tim nasional yang kuat.
“India atau China misalkan, belum tentu jadi langganan Piala Dunia, India bahkan belum pernah lolos. Faktor yang lebih menentukan adalah kualitas sistem,” kata Gigih.
“Negara dengan populasi lebih kecil seperti Kroasia atau Uruguay mampu bersaing di level dunia karena memiliki sistem pembinaan yang konsisten. Pencarian bakat yang efektif, dan kompetisi yang mendukung perkembangan pemain,” katanya lagi.
Gigih memahami keresahan dari Presiden Prabowo mengenai Indonesia tidak pernah tampil di Piala Dunia. Sepak bola, kata Gigih memiliki nilai strategis sebagai pemersatu bangsa sekaligus instrumen diplomasi olahraga.
“Dibutuhkan komitmen jangka panjang, mulai dari pembinaan usia dini, peningkatan kompetisi yang sehat, kualitas pelatih, sport science, tata kelola federasi yang profesional. Dalam beberapa tahun terakhir arah perbaikannya sudah terlihat, tetapi hasilnya memang membutuhkan waktu,” kata Gigih menegaskan.
Kendati demikian, Gigih menilai federasi sepak bola Indonesia mulai melakukan perbaikan dalam pembinaan. Ia berharap ada konsitensi dengan program yang telah ditetapkan dalam membangun tim nasional yang kompetitif.
“Dengan tren pembinaan yang mulai membaik, peningkatan prestasi Indonesia tetap memiliki peluang, tantangannya adalah menjaga konsistensi program selama bertahun-tahun. Karena membangun tim nasional yang kompetitif merupakan proses jangka panjang, bukan hasil dari satu atau dua turnamen,” katanya menjelaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....