Kemarau Panjang dan Ancaman Kekeringan di Kabupaten Bekasi

  • 21 Jun 2026 15:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dua Desa di Kabupaten Bekasi terdampak kekeringan di tengah musim kemarau yang akan mencapai puncaknya pada Juli 2026.
  • Sejumlah lahan pertanian juga berpotensi gagal panen dampak dari kekeringan akibat musim kemarau.
  • Dinas Pertanian juga mendorong petani di daerah rawan kekeringan menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air.

Kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan juga berpotensi menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami gagal panen. Oleh karena itu Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mulai mengambil sejumlah langkah dimulai dari pemetaan daerah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, mengatakan terdapat sejumlah daerah berpotensi mengalami kekeringan. Antara lain, Kecamatan Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi, dan Sukakarya.

“Sampai hari ini belum ada laporan terkait kekeringan ataupun puso di lahan sawah. Namun, kami tetap melakukan berbagai langkah antisipatif agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan,” katanya, Minggu 21 Juni 2026.

Selain melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi juga tengah mendata alat dan mesin pertanian (alsintan). Khususnya pompa air, juga tengah dilakukan sebagai bagian dari strategi menghadapi kemungkinan berkurangnya pasokan air irigasi.

Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait. Yang bertujuan untuk memastikan ketersedian dan distribusi air bagi lahan pertanian.

Adapun instansi tersebut meliputi, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kementerian Pertanian. Serta Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bekasi, termasuk para kelompok tani.

“Koordinasi dilakukan untuk perbaikan saluran irigasi, penguatan tanggul. Serta pengaturan distribusi air agar kebutuhan petani tetap terpenuhi selama musim kemarau,” katanya.

Dinas Pertanian juga mendorong petani di daerah rawan kekeringan menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air. Seperti Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpari 32.

Kemudian Inpari 38 Tadah Hujan Agritan. Serta varietas lokal yang memiliki karakter toleran terhadap kekeringan.

Langkah antisipatif lainnya meliputi penyesuaian jadwal tanam sesuai prakiraan iklim setempat agar tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau. Hingga identifikasi sumber-sumber air potensial, pendataan sumur dan pompa air, hingga mobilisasi sarana pompanisasi ke wilayah yang membutuhkan.

"Dinas Pertanian juga mendorong normalisasi dan perbaikan saluran irigasi. Serta pembangunan jaringan perpipaan untuk mengalirkan air dari sumber terdekat ke lahan pertanian," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....