Kesepakatan Damai AS-Iran: Harapan Baru Stabilitas Timur Tengah dan Ekonomi Global
- 16 Jun 2026 13:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kesepakatan yang dimediasi Pakistan mencakup penghentian konflik, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta negosiasi lanjutan selama 60 hari mengenai program nuklir Iran dan kemungkinan pencabutan sanksi.
- Jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia itu akan dibuka kembali, meski proses normalisasi diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan karena masih adanya operasi keamanan dan penyisiran ranjau.
- Kesepakatan ini mendorong penurunan harga minyak dan diharapkan dapat mengurangi tekanan inflasi, menstabilkan pasar energi dan pupuk dunia, meski para analis menilai risiko ketegangan baru masih tetap ada.
Melansir dari BBC News, MoU yang disepakati oleh Amerika Serikat dan Iran juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Penutupan selat tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara. Selain itu, Trump mengumumkan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pemerintah Iran melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi juga mengonfirmasi berakhirnya operasi militer. Sementara itu, Trump mengatakan kapal-kapal mulai bergerak melalui Selat Hormuz seiring kemajuan menuju implementasi kesepakatan tersebut.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengatakan banyak kapal bermuatan minyak mulai bergerak keluar dari Selat Hormuz. Ia menyebut jalur pelayaran di bagian selatan selat tersebut aman untuk dilalui.
Meski demikian, peringatan militer AS menyebut blokade terhadap pelabuhan Iran masih berlaku hingga upacara penandatanganan resmi dilakukan. Otoritas militer AS juga meminta kapal-kapal untuk tidak melintasi wilayah tersebut sebelum ada arahan resmi.
Pasar minyak internasional merespons positif perkembangan ini. Namun, para pelaku industri memperkirakan dibutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum aktivitas di Selat Hormuz dapat kembali sepenuhnya normal.
Menurut perusahaan pelayaran dan pasukan keamanan maritim, operasi penyisiran ranjau diperkirakan akan berlangsung selama 40 hingga 50 hari. Banyak perusahaan asuransi dan pelayaran masih menunggu jaminan keamanan sebelum mengizinkan kapal-kapal mereka melintasi jalur tersebut.
Kamar Pelayaran Internasional menyebut sekitar 500 kapal saat ini masih menunggu untuk melewati Selat Hormuz. Sementara itu, sekitar 20.000 awak kapal masih terdampar akibat penutupan jalur pelayaran itu.
Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya pada Jumat 19 Juni 2026. Namun, rincian mengenai mekanisme pengelolaan selat di masa depan belum diumumkan.
|
Selanjutnya,
Dampak Perdamaian AS-Iran bagi Dunia
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....