Revolusi Putih di tengah Ketergantungan Impor Susu
- 13 Jun 2026 14:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wamentan Sudaryono menginisiasi Gerakan Revolusi Putih untuk meningkatkan konsumsi susu dan populasi sapi perah nasional
- Indonesia masih mengimpor sekitar 3,7 juta ton setara susu segar per tahun senilai Rp25 triliun
- Produksi susu segar nasional baru sekitar satu juta ton atau memenuhi 20 persen kebutuhan nasional
- Konsumsi susu masyarakat Indonesia masih 17,76 liter per kapita per tahun
- Pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden percepatan peningkatan produksi susu nasional
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun mengatakan produksi susu domestik saat ini baru memenuhi sekitar seperempat kebutuhan nasional. Karena itu, peningkatan produksi perlu dilakukan melalui penambahan populasi dan peningkatan produktivitas sapi perah.
Menurutnya, produktivitas sapi perah nasional saat ini masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari. Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara produsen susu dunia.
"Kalau di negara-negara lain produksinya sudah di atas 30 liter. Kita ingin produktivitas peternak kita yang saat ini masih di bawah 20 liter per hari meningkat menjadi di atas 20, mudah-mudahan bisa 25 liter," kata Makmun dalam jumpa pers Hari Susu Nusantara 2026 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) Jakarta, Senin 2 Juni 2026.

Ia mengatakan peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas pakan dan penguatan kesehatan ternak. Pemerintah juga terus mendorong perbaikan manajemen pemeliharaan di tingkat peternak.
Makmun menjelaskan pemerintah menyediakan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk sapi perah. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak dan mengurangi risiko penurunan produksi.
"Sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK," ucapnya.
Selain meningkatkan produktivitas, pemerintah juga mendorong penambahan populasi sapi perah melalui pengadaan indukan. Langkah tersebut melibatkan pelaku usaha dalam negeri maupun perusahaan yang selama ini bergerak di sektor persusuan.
"Kita meminta seluruh pelaku usaha, baik importir maupun yang di dalam negeri, untuk juga berpartisipasi mengimpor sapi indukan karena kalau tidak ditambah jumlahnya tidak mungkin kita bisa meningkatkan produksi," kata Makmun.
|
Selanjutnya,
Peluang Pengembangan di Dataran Rendah
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....