Revolusi Putih di tengah Ketergantungan Impor Susu
- 13 Jun 2026 14:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wamentan Sudaryono menginisiasi Gerakan Revolusi Putih untuk meningkatkan konsumsi susu dan populasi sapi perah nasional
- Indonesia masih mengimpor sekitar 3,7 juta ton setara susu segar per tahun senilai Rp25 triliun
- Produksi susu segar nasional baru sekitar satu juta ton atau memenuhi 20 persen kebutuhan nasional
- Konsumsi susu masyarakat Indonesia masih 17,76 liter per kapita per tahun
- Pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden percepatan peningkatan produksi susu nasional
Produksi Belum Penuhi Kebutuhan Nasional
PEMERINTAH mulai menggaungkan Gerakan Revolusi Putih sebagai upaya meningkatkan konsumsi susu masyarakat sekaligus memperkuat industri persusuan nasional. Gagasan tersebut diperkenalkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Taman Margasatwa Ragunan Jakarta Selatan, Sabtu 6 Juni 2026.
Gerakan tersebut hadir di tengah upaya pemerintah memperkuat kualitas gizi masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi kondisi di mana sebagian besar kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.
"Saya ingin menginisiasi satu gerakan yang kita namakan Revolusi Putih. Tujuannya meningkatkan populasi sapi perah dan mendistribusikan susu secara gratis kepada anak-anak sekolah di seluruh Indonesia," kata Sudaryono.
Menurutnya, peningkatan konsumsi susu harus menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Ia menilai pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kecukupan pangan, tetapi juga kualitas asupan yang diterima sejak usia dini.
Dalam sambutannya, Sudaryono membagikan pengalaman pribadinya yang mengaku rutin mengonsumsi susu sejak bersekolah di SMA Taruna Nusantara. Ia menyebut kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pola hidup yang terus dijalankan hingga sekarang.
"Saya ini produk susu. Waktu masuk SMA tinggi saya 164 sentimeter. Dalam tiga tahun naik 14 sentimeter menjadi 178 sentimeter karena rutin minum susu," ucapnya.
Sudaryono juga mengingatkan masyarakat agar memahami perbedaan antara susu murni dan susu kental manis. Menurutnya, susu yang dimaksud dalam gerakan peningkatan konsumsi susu adalah susu segar dan susu olahan yang memiliki kandungan gizi lengkap.
"Orang tuanya boleh susah, tapi anaknya harus makan bergizi. Harus makan telur dan harus minum susu," katanya.
Produktivitas dan Populasi Sapi Perah
Hari Susu Nusantara diperingati setiap 1 Juni bertepatan dengan World Milk Day. Tahun ini peringatan tersebut mengusung tema "Dengan Susu, Generasi Kuat, Indonesia Hebat".
Tema tersebut sejalan dengan kondisi sektor persusuan nasional saat ini. Konsumsi susu masyarakat masih relatif rendah, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang terus didorong pemerintah untuk meningkat.
Di sisi lain, produksi susu segar nasional baru mencapai sekitar satu juta ton per tahun. Jumlah tersebut baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional.
"Produksi susu segar nasional baru mencapai sekitar satu juta ton atau hanya memenuhi 20 persen dari kebutuhan susu nasional. Selebihnya kita masih impor sekitar 3,7 juta ton setara susu segar dengan nilai sekitar Rp25 triliun per tahun," ucap Agung.
Data tersebut menunjukkan sebagian besar kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Nilai impor susu mencapai sekitar Rp25 triliun setiap tahun.
Agung mengatakan Indonesia saat ini memiliki sekitar 540 ribu ekor sapi perah. Sebanyak 85 persen dipelihara oleh peternak rakyat dengan kepemilikan kurang dari 50 ekor.
Sekitar 10 persen sapi perah berada pada peternak komersial menengah dengan populasi 50 hingga 1.000 ekor. Sementara lima persen lainnya dipelihara peternakan korporasi atau megafarm.
Menurut Agung, rata-rata produksi susu nasional saat ini sekitar 16 liter per ekor per hari. Produktivitas tersebut masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah.
"Tantangan yang kita hadapi saat ini antara lain masih kurangnya jumlah indukan sapi perah, rata-rata produksi susu masih rendah, sebagian besar peternak kita adalah peternak rakyat skala kecil, keterbatasan lahan dan masih tingginya impor bahan baku susu," katanya.
Pemerintah saat ini tengah memfinalisasi rancangan Peraturan Presiden tentang percepatan peningkatan produksi susu nasional. Regulasi tersebut disiapkan sebagai fondasi pengembangan industri persusuan nasional ke depan.
Peluang Pengembangan di Dataran Rendah
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun mengatakan produksi susu domestik saat ini baru memenuhi sekitar seperempat kebutuhan nasional. Karena itu, peningkatan produksi perlu dilakukan melalui penambahan populasi dan peningkatan produktivitas sapi perah.
Menurutnya, produktivitas sapi perah nasional saat ini masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari. Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara produsen susu dunia.
"Kalau di negara-negara lain produksinya sudah di atas 30 liter. Kita ingin produktivitas peternak kita yang saat ini masih di bawah 20 liter per hari meningkat menjadi di atas 20, mudah-mudahan bisa 25 liter," kata Makmun dalam jumpa pers Hari Susu Nusantara 2026 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) Jakarta, Senin 2 Juni 2026.

Ia mengatakan peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas pakan dan penguatan kesehatan ternak. Pemerintah juga terus mendorong perbaikan manajemen pemeliharaan di tingkat peternak.
Makmun menjelaskan pemerintah menyediakan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk sapi perah. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak dan mengurangi risiko penurunan produksi.
"Sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK," ucapnya.
Selain meningkatkan produktivitas, pemerintah juga mendorong penambahan populasi sapi perah melalui pengadaan indukan. Langkah tersebut melibatkan pelaku usaha dalam negeri maupun perusahaan yang selama ini bergerak di sektor persusuan.
"Kita meminta seluruh pelaku usaha, baik importir maupun yang di dalam negeri, untuk juga berpartisipasi mengimpor sapi indukan karena kalau tidak ditambah jumlahnya tidak mungkin kita bisa meningkatkan produksi," kata Makmun.
Serapan Susu Dalam Negeri
Pengembangan sapi perah selama ini identik dengan wilayah dataran tinggi. Namun Makmun mengatakan perkembangan teknologi membuka peluang pengembangan peternakan sapi perah di dataran rendah.
Menurutnya, sejumlah perusahaan telah mengembangkan peternakan sapi perah di wilayah dataran rendah. Model serupa juga telah diterapkan di sejumlah negara yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
"Kalau kita lihat di negara lain, Uni Emirat Arab dan negara-negara Timur Tengah juga memproduksi sapi perah. Dengan teknologi yang ada, sapi perah bisa berkembang di dataran rendah," ucapnya.
Ia mengatakan pemanfaatan teknologi membuka peluang pengembangan sapi perah di wilayah yang lebih luas. Kondisi tersebut dapat mendukung peningkatan populasi ternak di masa mendatang.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga mendorong peningkatan serapan susu segar dalam negeri. Salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis yang mulai mengakomodasi penggunaan susu produksi peternak lokal.
Makmun mengatakan program pemerintah telah mengakomodasi penggunaan susu segar dalam negeri minimal 20 persen. Kebijakan tersebut menjadi ruang bagi peternak lokal untuk memperluas pasar.
"Kami berterima kasih kepada teman-teman di BGN. Program pemerintah sudah mengakomodir susu segar dalam negeri minimum 20 persen," ucapnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan susu yang diproduksi peternak terserap pasar. Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi agar mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Selain itu, pemerintah menyiapkan konsep Dapur Susu Indonesia (DaSI) yang terintegrasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Konsep tersebut dirancang untuk memperkuat rantai pasok susu sekaligus mendukung kebutuhan MBG.
Melalui konsep tersebut, susu segar yang dihasilkan peternak dapat diolah dan disalurkan kepada penerima manfaat program pemerintah. Skema tersebut juga diharapkan memperkuat hubungan antara peternak, industri pengolahan, dan pasar.
Makmun mengatakan hilirisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan industri persusuan nasional. Menurutnya, produksi susu peternak perlu didukung dengan pasar yang mampu menyerap hasil produksi secara berkelanjutan.
"Jangan sampai susu ini hanya diminum oleh anak-anak. Kebutuhan susu itu mulai dari lahir sampai meninggal," katanya.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi susu nasional saat ini masih berada di bawah kebutuhan domestik. Pemerintah menyiapkan berbagai langkah mulai dari peningkatan populasi sapi perah, peningkatan produktivitas ternak, penguatan hilirisasi, hingga perluasan serapan susu segar dalam negeri untuk meningkatkan produksi nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....