Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni di tengah Gejolak Ekonomi dalam Negeri

  • 01 Jun 2026 15:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • SELURUH raykat Indonesia pada Senin, 1 Juni 2026, memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila pada tahun 2026 ini, diperingati masyarakat di tengah tantangan gejolak ekonomi dalam negeri.
  • Presiden Prabowo Subianto menegaskan, Pancasila menjadi pegangan kokoh bangsa Indonesia di tengah berbagai gejolak global yang terus berkembang.
  • Kami tidak minta Pancasila dihafal. Kami minta Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan.

Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Firman Soebagyo menegaskan, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial. Mengingat, Pancasila adalah fondasi rumah besar bernama Indonesia.

Pernyataan tegas anggota Komisi II DPR ini merespons, perayaan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni. "Kalau fondasinya retak, atapnya pasti bocor,” kata Firman dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin 1 Juni 2026.

Menurut anggota Baleg DPR ini, terdapat tiga tantangan nyata yang membuat nilai-nilai Pancasila jauh dari kehidupan sebagian masyarakat. Pertama, kesenjangan ekonomi.

Ia menilai, sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Indonesia. Khususnya, para petani, nelayan, pelaku UMKM, maupun para guru yang masih menghadapi berbagai hambatan dan regulas.

Kedua, polarisasi identitas, Firman menyebut sila ketiga tentang Persatuan Indonesia. Saat ini, menghadapi ujian berat akibat perkembangan teknologi, penyebaran hoaks, serta maraknya politik identitas di media sosial.

Ketiga, lemahnya keteladanan. Menurutnya, penerapan sila kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus dimulai dari para pejabat. Kemudian, para elite pemerintahan dan tokoh masyarakat.

"Sebagai bentuk implementasi nilai-nilai Pancasila, terdapat tiga program konkret, Program pertama bertajuk 'Satu Desa Satu Pancasila'. Yakni diskusi rutin di desa dan kelurahan untuk membedah berbagai persoalan lokal melalui pendekatan nilai-nilai Pancasila," ucap Firman.

Program kedua, kata Firman, adalah 'Koperasi Merah Putih' yang bertujuan mendorong penguatan ekonomi berbasis gotong royong. Hal itu, bertujuan agar nilai keadilan sosial dapat diwujudkan secara nyata di tengah masyarakat.

Sementara program ketiga, 'Sumpah Digital Beradab'. Merupakan gerakan literasi digital untuk menolak ujaran kebencian dan memperkuat nilai kemanusiaan serta persatuan di ruang digital.

“Kami tidak minta Pancasila dihafal. Kami minta Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan. Dari warung, sawah, pabrik, sampai kantor pemerintah, kalau negara hadir untuk rakyat kecil, Pancasila akan hidup dengan sendirinya,” ujar Firman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....