SLB Negeri Kabupaten Bekasi, Sekolah Inklusi Milik Negara di Jantung Industri
- 29 Mei 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- SLB Negeri Kabupaten Bekasi jadi satu-satunya sekolah inklusi milik negara atau pemerintah yang berada di Kabupaten Bekasi.
- Sejauh ini SLB Negeri Kabupaten Bekasi kekurangan guru untuk mengajar siswa di sekolahnya.
- Pemerintah baik pusat maupun daerah dalam hal ini Provinsi mulai menaruh perhatian kepada keberlangsungan sekolah inklusi.
Pemerintah baik pusat maupun daerah dalam hal ini Provinsi nampaknya mulai menaruh perhatian kepada keberlangsungan sekolah inklusi. Sehingga pada tahun 2025 lalu, SLB Negeri Kabupaten Bekasi mendapat bantuan berupa rehabilitasi ruang kelas dan penambahan ruang kelas baru (RKB).
Bantuan ini sumbernya berasal dari Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat. Untuk penambahan RKB itu berasal dari Provinsi Jawa Barat sedangkan revitalisasi berasal dari pemerintah pusat.
Menurut Kartini, untuk penambahan RKB, pihak Provinsi Jawa Barat membangun 10 unit RKB pada tahun 2025. Rinciannya 8 unit ruang kelas dan 2 unit ruang vokasi.
Sedangkan bantuan pemerintah pusat berupa revitalisasi. Rinciannya rehab ruang aula, ruang kelas, ruang pembelajaran khusus, toilet dan selasar.

Kartini, mengatakan revitalisasi dan pembangunan ruang belajar mulai menghadirkan dampak nyata. Tidak hanya memperbaiki kualitas bangunan sekolah, tetapi juga meningkatkan kenyamanan, aksesibilitas, serta semangat belajar siswa berkebutuhan khusus.
"Tadinya kan sekolah ini didirikan dari 2012, gedung-gedungnya sudah usang, ruang kelasnya juga kurang nyaman untuk anak-anak. Dengan adanya bantuan ini anak-anak lebih bersemangat belajarnya karena sekolahnya sudah rapi, bersih, pencahayaan bagus begitu juga aksesibilitasnya," katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Pembangunan Revitalisasi sekaligus perwakilan orang tua murid, Margiono menilai revitalisasi membawa perubahan yang sangat terasa. Terutama pada fasilitas pembelajaran dan sanitasi sekolah.
Ia menyebut sebelum revitalisasi dilakukan, beberapa bangunan dan ruang pembelajaran khusus mengalami kerusakan cukup berat. Akibatnya hal itu kurang nyaman digunakan siswa.
"Jelas ada perbedaan, dulu bangunan banyak kerusakan, terutama ruang pembelajaran khusus, kerusakannya cukup tinggi. Sekarang kondisinya lebih baik, toilet juga lebih bersih dan nyaman dipakai,” katanya.
Pihaknya berharap program revitalisasi pendidikan seperti ini dapat terus dilanjutkan secara berkelanjutan. Pasalnya kebutuhan layanan pendidikan khusus terus meningkat.
"Kalau bisa program seperti ini terus ada karena sekolah ini akan terus dipakai. Dan kebutuhan masyarakat terhadap sekolah khusus juga semakin meningkat,” ujarnya.
|
Selanjutnya,
Hadirkan Semangat Baru untuk Para Siswa
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....