Dari Realitas Absurd ke Panggung Dunia, Langkah Besar 'Ghost in the Cell'

  • 29 Apr 2026 21:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dalam 13 hari penayangan, Ghost in the Cell berhasil menembus dua juta penonton di Indonesia serta sukses menembus pasar internasional dengan hak tayang yang terjual di 86 negara setelah debut di Berlinale 2026.
  • Melalui genre horor-komedi, Joko Anwar menggunakan film ini sebagai metafora kritik sosial untuk memotret realitas ketidakadilan dan fenomena janggal di Indonesia, namun tetap mempertahankan unsur harapan bagi penontonnya.

Capaian Ghost in the Cell tidak hanya terasa di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar global dengan rencana tayang di 86 negara. Film ini bahkan telah menarik perhatian internasional sejak tampil di Berlin Film Festival atau Berlinale 2026.

Keberhasilan tersebut menandakan tingginya minat pasar global terhadap film ini. Penayangan internasional mencakup kawasan Asia, Amerika, Eropa, hingga Oseania.

Sejumlah negara di Asia dan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, hingga Taiwan dipastikan menayangkan film ini. Sementara itu, kawasan Amerika Utara mencakup Amerika Serikat dan Kanada.

Di wilayah Eropa, film ini akan hadir di Jerman, Prancis, Spanyol, Belanda, serta kawasan Britania Raya dan Irlandia. Penayangan juga menjangkau Australia dan Selandia Baru sebagai bagian dari ekspansi global.

Untuk kawasan Amerika Latin, negara seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Chile turut masuk dalam daftar distribusi. Film ini juga menjangkau wilayah Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh.

Menurut Joko Anwar, tema yang diangkat dalam film ini bersifat universal dan dekat dengan realitas banyak negara. Isu kekuasaan, sistem korup, hingga perjuangan mencari kebenaran dinilai dapat dipahami lintas budaya.

“Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan,” ujar Joko Anwar dalam keterangan tertulis.

Sebelum tampil di Berlinale, film ini juga telah diakuisisi oleh Plaion Pictures. Kerja sama ini membuka peluang distribusi yang lebih luas, khususnya di kawasan Eropa.

Produser Tia Hasibuan menyebut capaian ini menjadi bukti film Indonesia semakin diakui dunia. Banyaknya negara yang membeli hak tayang menunjukkan daya tarik kuat film ini di pasar internasional.

Dengan distribusi yang luas, Ghost in the Cell menjadi salah satu film Indonesia dengan jangkauan global terbesar. Film ini diharapkan dapat memperkuat posisi industri perfilman Indonesia di kancah internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....