Dari Realitas Absurd ke Panggung Dunia, Langkah Besar 'Ghost in the Cell'
- 29 Apr 2026 21:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dalam 13 hari penayangan, Ghost in the Cell berhasil menembus dua juta penonton di Indonesia serta sukses menembus pasar internasional dengan hak tayang yang terjual di 86 negara setelah debut di Berlinale 2026.
- Melalui genre horor-komedi, Joko Anwar menggunakan film ini sebagai metafora kritik sosial untuk memotret realitas ketidakadilan dan fenomena janggal di Indonesia, namun tetap mempertahankan unsur harapan bagi penontonnya.
FILM Ghost in the Cell karya Joko Anwar hadir sebagai horor dengan sentuhan komedi dan satire sosial yang menyentil realitas “absurd”. Dibintangi Abimana Aryasatya, Bront Palarae, dan Arswendy Bening Swara, film ini langsung mencuri perhatian publik.
Sejak awal penayangannya, film ini telah mendapat sambutan positif dari publik internasional. Ghost in the Cell bahkan sukses mencuri perhatian saat world premiere di Berlinale 2026, serta telah dibeli hak tayangnya di 86 negara.
Dalam 13 hari penayangan di Indonesia, film ini berhasil menembus dua juta penonton dan menjadi perbincangan luas. Antusiasme tersebut menandai kuatnya daya tarik cerita yang tak sekadar menghibur, tetapi juga relevan dengan kondisi saat ini.
Joko Anwar menyebut istilah “absurd” sebagai kata kunci yang terus muncul selama proses pengembangan cerita sejak 2018. Ia menilai berbagai fenomena di Indonesia kerap terasa janggal dan sulit dipahami, bahkan untuk persoalan besar seperti korupsi.
“Bagaimana filmnya bisa merepresentasikan Indonesia dalam satu kata yang muncul terus ketika kita mengembangkan cerita ini adalah ‘absurd’. Aku mencoba membuat skenarionya juga bisa menangkap fenomena itu,” ujar Joko Anwar dalam press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis 9 April 2026.
Meski mengangkat tema yang terasa berat, film ini tidak berakhir dengan nuansa putus asa. Joko Anwar menegaskan bahwa harapan tetap menjadi bagian penting dalam cerita yang dibangun.
“Tapi ada satu tone yang kita pertahankan, jadi kita gak mau film ini berakhir dengan putus asa. Karena kita sebagai manusia pasti masing-masing dari kita ada tujuannya sendiri,” ujar Joko Anwar.
Joko juga menggunakan metafora kuat dalam film ini, yakni negara sebagai penjara dan masyarakat sebagai para penghuninya. Ia menggambarkan bahwa sebagian besar orang tidak memiliki pilihan untuk “kabur”, kecuali segelintir pihak yang memiliki privilese.
Melalui Ghost in the Cell, Joko berupaya menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih ringan namun tetap tajam. Film ini diharapkan bisa menjadi cerminan realitas, sekaligus mengajak penonton untuk melihat kondisi Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.
|
Selanjutnya,
Ledakan Antusiasme, 2 Juta Penonton dalam 13 Hari
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....